Rony menarik
nafas panjang. Ia paham betul: kalau bosnya bicara dengan tone seperti ini,
bakal ada proyek baru yang ‘harus’ jalan. Dan itu artinya, ia harus siap-siap
memahami setiap detil rincian gagasannya.
Tanpa banyak
bicara, ia menyalakan voice recorder di ponselnya, dan note kecil serta bolpen.
Izack
menatapnya sambil tersenyum. “Kau tahu kenapa aku berani mengucurkan dana puluhan
juta buat acara bootcamp anak sekolah menulis cerita?”
“Promosikan
buku?”
Izack tertawa
kecil. “Promosi apa? Modal balik aja enggak, kan?”
Rony tahu
betul laporan event itu, dan ia hanya tersenyum.
“Kita mendekati
dinas pendidikan dan kebudayaan, Ron,” jawab Izack. “Itu pintu masuk kita untuk
proyek-proyek yang lebih besar.”
Rony
melingkarkan mulutnya. “Ah...”
“Tapi bukannya
harus gandeng Dinas Kominfo juga, Bang?” sanggah Rony.
“Pelan,
Ron,” tegur Izack sambil tersenyum.
Rony hanya
tertawa kecil.
“Ada satu lagi
yang mau aku arah dari proyek storyteller ini,”
“Apa, Bang?”
“Animasi.”
Rony
langsung menatap tajam, perlahan hanya bisa tersenyum samar, meraup wajah. “Maksudnya?”
Kali ini
setengah tertawa Rony kembali buka mulut. “Bang... otak Abang tuh berasa
seperti kereta maglev. Aku baru naik ke peron, Abang sudah sampai di stasiun
berikutnya.”
Izack hanya
tersenyum. “Hari ini Ron... apapun bisa kita kerjakan.”
“Orang
bilang krisis, kita bilang ini peluang.”
“Iya juga
sih, Bang.”
“Nah, kan...
asal pintar-pintarnya kita buat narasi kehidupan kita aja kan?”
Rony
menghela nafas berat, membuat kepalanya seketika memanas sekalipun suhu ruangan
cukup sejuk, bahkan dingin.
Lelaki
dengan alis mata tebal itu kembali bersandar. “Kita ini bangsa besar. Nenek
moyang kita dulu penguasa lautan, punya sejarah panjang peradaban manusia.”
“Tapi anehnya
mental kita ini seperti mental orang sakit yang nggak kuat berdiri.”
Rony tak
menyela.
“Ini bukan proyek
ambisi. Ada nilai edukasi bangsa yang sedang kita perjuangkan,” ujar Izack
pelan.
Rony hanya mengangguk,
sorot matanya menurun seolah menangkap setiap langkah katanya.
“Hmm...
Paham aku, Bang. Dari sini kita bakal turunkan jadi proposal.”
“Ya,” jawab
Izack.
Izack
kembali mengacungkan jari seolah memberi peringatan. “Ingat, perpustakaan
digital yang kita arah nggak kering.”
“Mungkin
akan banyak interaksi animasi yang lebih menyenangkan bagi anak-anak. Karena
itu pintu gerbang kita, menggiring masyarakat suka membaca.”
Tiba-tiba lelaki
dengan rambut keriting itu diam seolah menyimak pikirannya sendiri.
“Aku jadi
ingat data sebuah platform novel online milik luar. Pembacanya, paling banyak dari
negara kita.”
“Nah,
kan...” jawab Izack.
“Itu baru
satu platform, belum yang lainnya.”
“Makanya,”
ujar Izack, “Riset bilang literasi masyarakat kita rendah itu nggak benar. Yang
benar, untuk mendapatkan akses buku fisik rendah. Itu mungkin benar.”
“Betul
juga,” gumam Rony.
“Harga buku fisik
masih mahal, karena tidak sebanding dengan pendapatan rata-rata. Sudah gitu
distribusinya juga sulit karena ketidak merataan infrastruktur kita.”
“Itulah
pentingnya kita punya perpustakaan digital dengan kapasitas besar yang mudah
dan murah. Fungsinya untuk menjembatani itu.”
“Sampai
disini, paham kan.. maksudku?”
“Paham,
Bang,” sahut Rony.
“Jadi, jangan
mudah dikerdilkan, Ron.”
Izack
tersenyum tipis menyilangkan kaki. “Ya... Meskipun hari ini sekolah masih sibuk
mengejar nilai, bukan menumbuhkan rasa ingin tahu. Tapi bagi kita, itu peluang
baru.”
Merasa tak
cukup dengan alat perekam, Rony mulai mencoret-coret gagasannya sendiri ke
dalam note kecil sebagai bahan gagasan proposal.
“Kita perlu
mendokumentasikan jejak pengetahuan negeri ini, tujuannya biar nggak hilang.
Supaya mindset bangsa besar itu kembali terbentuk dan tumbuh.”
Hening
sejenak.
Rony terdiam
lama, lalu bersuara pelan, “Tapi Bang... bukannya e-book juga sudah banyakya?”
Izack menghela
nafas, menurunkan pundaknya.
“E-book
banyak, iya. Tapi itu untuk dijual. Sedangkan dari tadi yang aku bicarakan itu soal
literasi gratis dan mudah diakses. Karena itu tanggung jawab negara, Ron.”
“Setiap
warga negara berhak mendapatkan pendidikan yang layak.”
“Oh... benar
juga, ya?”
“Kita nggak
bohong kan?”
Rony hanya
tersenyum samar mengangguk paham apa yang dimaksud bosnya.
Izack
menatap langit-langit ruangan.
“Goal kita
sederhana: mengarsipkan semua buku berkualitas supaya bisa diakses siapapun.”
“Orang asing
sekalipun?”
Setengah
ragu Izack menelengkan kepala.
“Kenapa
takut??”
“Kamu tahu?
Beberapa negara maju menggratiskan buku-buku bagus yang bisa diakses siapapun,”
“Iya juga
sih,” Rony menggaruk kepala yang tak gatal.
“Referensi
itu ibarat memori bangsa, pondasi kita dalam berpikir dan bertindak.”
“Jika kita
nggak punya itu, kita hanya akan jadi kumpulan manusia yang berjalan tanpa arah
dan mengulangi kesalahan yang sama. Seperti kita hari ini.”
Izack
memberi jeda sejenak, seolah menata pikirannya agar tak terlalu jauh melayang.
“Hari ini,
kita manfaatkan internet mudah dan cepat untuk mendorong itu.”
Rony hanya
mengangguk samar, antara kagum dan lelah. Lalu bersandar ke punggung sofa,
menarik nafas panjang. “Bang... jujur, kepalaku mulai berat.”
Izack hanya
tersenyum kecil melengoskan wajahnya sedikit geli.
“Ahh,
kamu...”
“Kalian
butuh kenaikan gaji, kan?”
“Iyalah,”
jawabnya terkekeh.
“Itulah
peluang, kalau mau. Kejar!”
Lelaki itu
membenarkan letak kacamatanya, lalu berdehem, tersenyum ragu.
“Tapi itu
terlalu berat buat perusahaan kita, Bang.”
“Sudah, gini
deh. Kamu buat latar belakang masalah dulu dari keteranganku tadi. Kalau sudah,
kirim ke aku. Seberapa paham kamu dengan keterangku tadi.”
“Siap.”
“Kapan?
Besok?” tanya Izack seolah menantang.
Lagi-lagi
Rony hanya mendenguskan tawanya.
“Satu minggu,
ya, Bang?”
“Oke,”
“Serius aku
tunggu ya.”
“Siap.”
Sesaat Izack
terdiam.
Hening
sejenak, sebelum ia membuka suara lagi.
“Dua tahun
lebih aku mengendalikan AMN pusat,” katanya pelan. “Sering dengar para senior
kita yang sudah jadi pejabat. Jujur, kadang cuma bisa geleng-geleng.”
Rony
menatap, menunggu.
“Negara
sekaya ini, mengapa masyarakatnya masih banyak yang hidup menderita.”
“Secara
keuangan, kita ini jauh lebih dari kata kaya sebenarnya.”
“Hanya saja
karena masyarakat kita masih mudah dibodohi. Itu semua ya awalnya dari literasi
kan...”
Rony
mengangguk pelan.
“Itulah
kenapa, sasaran utamaku sejak dulu adalah membangun perpustakaan digital yang
katamu dananya besar.”
Suasana
mendadak tenang.
“Oke.”
“Jadi,
sekarang yang menentukan adalah bagaimana bunyi proposal kita, seberapa pintar
kita menarasikan dan melakukan lobi di meja negosiasi. Begitu kan, Bang?”
“Ya!” jawab
Izack mantap.
Izack
menurunkan pandangannya, lalu kembali menatap Rony penuh.
“Kalau itu
sudah selesai, segera aturkan jadwal rapat untuk membicarakan itu dengan tim
inti. Aku butuh pendapat dan masukan dari kalian,” kata Izack
“Kita tahu,
ini proyek tidak sembarangan. Jadi, kita perlu persiapan matang.”
“Siap,
Bang.”
Rony sudah
siap beranjak, tapi Izack menahan gerakannya dengan satu kalimat pendek yang
membuatnya kembali siaga.
“Oh ya, satu
lagi. Gagasan menambah income jangka pendek.”
Rony
mengangkat wajah.
“Kita bisa
jalin kerja sama dengan Studio animasi untuk menawarkan film dari novel sains
fiksi kita yang baru terbit kemarin.”
“Karena
sejauh ini, negara kita minim bahkan langka menayangkan film-film semacam ini.”
“Ini
kesempatan. Kita incar pasar yang belum tersentuh. Kalau perlu, ajak kerjasama
badan penelitian milik negara atau swasta.”
Rony diam
sejenak, mencoba menagkap keinginan bosnya.
“Film sains
fiksi ini bukan sekadar hiburan. Kalau kita mau bikin sesuatu yang berkualitas,
kita butuh riset.”
Rony
tersenyum tipis, dan mengangguk.
“Oke, Bang,”
jawabnya.
“Silahkan,”
ucap Izack
Rony kembali
melangkah keluar.
Langit di
luar mulai temaram. Senja perlahan menyapu kota, perlahan digantikan
gelap.
Izack
kembali duduk dan merebahkan tubuhnya ke sofa. Sekilas ia menatap langit-langit,
seolah memburu detil bagaimana cara kerja dan keuangannya.
Sementara
pintu tertutup pelan. Rony kembali ke meja kerjanya.
Ia meraup
wajahnya dengan seulas senyum getir.
“Punya bos
gila seperti ini membuatku bisa menua di kantor,” gumamnya lirih tertawa geli.
Ia kembali
meletakkan laporan itu di meja.
Ruangan
telah gelap. Hanya satpan yang perlahan menyalakan ruangan.
“Belum
pulang, mas?”
“Belum,
Pak,” ucapnya yang ditinggalkan begitu saja lelaki bertubuh gempal dengan
pakaian khusus.
Ia kembali
menyangga kepala.
Ingatannya
melayang ke masa –dimana saat pimpinannya ini menjabat ketua cabang AMN kota Tayoga
saat itu.
Dengan suara
lantang ia berdiri di depan gedung pemerintah daerah, mengangkat tinggi bendera
AMN, menolak kenaikan SPP dan biaya uang gedung yang makin menggila.
Dalam waktu
dua minggu, wacana itu menjalar ke puluhan kampus di seluruh tanah air, lewat
forum mahasiswa, siaran live media sosial, hingga trending tagar:
#PukulMundurSPPMahal
#MahasiswaCerdasHarusCadas
Hingga
akhirnya, organisasi mahasiswa lintas daerah membuka jalur komunikasi resmi ke
anggota Dewan. Sorotan media nasional seketika riuh, tekanan publik terus
meningkat, hingga konsolidasi antar badan eksekutif mahasiswa, yang menjadikan
isu tak bisa diabaikan.
Lalu tiga
minggu kemudian, dalam jumpa pers bersama dinas pendidikan pusat, pemerintah
mengumumkan peninjauan ulang kebijakan tersebut. Namun gerakan tetap terus
dikawal. Hingga akhirnya sebulan kemudian, kenaikan akhirnya dicabut.
Itu adalah
prestasi terbesar Izack, menggulirkan wacana dari lorong-lorong kampus,
menggandeng seluruh organisasi sosial mahasiswa.
Ia masih
ingat betul, bagaimana bos mudanya itu menyusun narasi, menjadikannya isu
nasional, lalu menggerakkan barisan mahasiswa memenuhi jalanan, tepat saat
subsidi pendidikan resmi dicabut.
Bendera
besar AMN berkibar di tengah kerumunan yang panas.
Saat itu,
Rony hanya diam, mengikuti arahan tanpa banyak tanya.
Menurutnya,
itulah jalan yang paling masuk akal di saat negeri ini mulai kehilangan arah.
***
Malam itu Izack
kembali berdiri di depan dinding kaca. Sorot matanya tajam. Alis matanya yang
tebal seakan menyambung, pikirannya melayang jauh dari sekadar kata bisnis.
Lalu
tatapannya jatuh ke meja. Map tua itu masih tergeletak di sana. Tiba-tiba,
layar laptopnya menyala. Di sana terpampang foto-foto dirinya semasa remaja
-kusut, berantakan, tapi semangatnya jelas terlihat.
Ia sadar,
saat ini adalah hasil kerja kerasnya di masa lalu, dimana dirinya berada dalam
masa pahit menghadapi kenyataan.
Bahwa
dirinya adalah bayi buangan di tempat pembuangan sampah akhir.
Masih ada
sisa nyeri di sana, teringat bagaimana masa remaja ia lewati dengan perjuangan
untuk mengendalikan diri.
Lalu matanya
kembali tertuju pada latar belakang penulis. Ia merasa dirinya tak jauh beda
dengan masa remajanya saat itu.
Ia kembali
duduk, lalu meneruskan bacaannya.
Tak terasa terbawa
arus tulisannya yang mengalir. Hingga sadar, ruangan mulai meredup. Jemarinya menggeragap
mencari penerangan.
Suasana hening
dan senyap dipecahkan oleh suara ketukan pintu.
“Masuk”
Ozin muncul
dari balik pintu.
“Bang, jadi berangkat
ke markas AMN?”
“Hm...?”
Izack menatap lama, bingung mencari ingatan --apa yang perlu ia lakukan.
“Oh! oke.” jawabnya
seolah kembali menemukan ingatannya.
Ia menutup
naskah dan membawanya pergi, membuat Ozin melihat sekilas tentengan tersebut.
“Tumben bawa
pekerjaan, Bang.”
“Hm,
sepertinya ini naskah buku menarik. Tapi entah, bisa kita terbitkan atau tidak.”
“Kenapa?”
“Ah, banyak
tanya kau,” tukas Izack setengah bercanda.
Ozin nyengir,
ia tetap berjalan mengikuti langkah Izack yang tegas menyusuri ruangan, sepi.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar