Minggu, 18 Januari 2026

Bab 2 Arsip dan Ambisi


Rony menarik nafas panjang. Ia paham betul: kalau bosnya bicara dengan tone seperti ini, bakal ada proyek baru yang ‘harus’ jalan. Dan itu artinya, ia harus siap-siap memahami setiap detil rincian gagasannya.

Tanpa banyak bicara, ia menyalakan voice recorder di ponselnya, dan note kecil serta bolpen.

Izack menatapnya sambil tersenyum. “Kau tahu kenapa aku berani mengucurkan dana puluhan juta buat acara bootcamp anak sekolah menulis cerita?”

“Promosikan buku?”

Izack tertawa kecil. “Promosi apa? Modal balik aja enggak, kan?”

Rony tahu betul laporan event itu, dan ia hanya tersenyum.

“Kita mendekati dinas pendidikan dan kebudayaan, Ron,” jawab Izack. “Itu pintu masuk kita untuk proyek-proyek yang lebih besar.”

Rony melingkarkan mulutnya. “Ah...”

“Tapi bukannya harus gandeng Dinas Kominfo juga, Bang?” sanggah Rony.

“Pelan, Ron,” tegur Izack sambil tersenyum.

Rony hanya tertawa kecil.

“Ada satu lagi yang mau aku arah dari proyek storyteller ini,”

“Apa, Bang?”  

“Animasi.”

Rony langsung menatap tajam, perlahan hanya bisa tersenyum samar, meraup wajah. “Maksudnya?”

Kali ini setengah tertawa Rony kembali buka mulut. “Bang... otak Abang tuh berasa seperti kereta maglev. Aku baru naik ke peron, Abang sudah sampai di stasiun berikutnya.”

Izack hanya tersenyum. “Hari ini Ron... apapun bisa kita kerjakan.”

“Orang bilang krisis, kita bilang ini peluang.”

“Iya juga sih, Bang.”

“Nah, kan... asal pintar-pintarnya kita buat narasi kehidupan kita aja kan?”

Rony menghela nafas berat, membuat kepalanya seketika memanas sekalipun suhu ruangan cukup sejuk, bahkan dingin.

Lelaki dengan alis mata tebal itu kembali bersandar. “Kita ini bangsa besar. Nenek moyang kita dulu penguasa lautan, punya sejarah panjang peradaban manusia.”

“Tapi anehnya mental kita ini seperti mental orang sakit yang nggak kuat berdiri.”

Rony tak menyela.

“Ini bukan proyek ambisi. Ada nilai edukasi bangsa yang sedang kita perjuangkan,” ujar Izack pelan.

Rony hanya mengangguk, sorot matanya menurun seolah menangkap setiap langkah katanya.

“Hmm... Paham aku, Bang. Dari sini kita bakal turunkan jadi proposal.”

“Ya,” jawab Izack.

Izack kembali mengacungkan jari seolah memberi peringatan. “Ingat, perpustakaan digital yang kita arah nggak kering.”

“Mungkin akan banyak interaksi animasi yang lebih menyenangkan bagi anak-anak. Karena itu pintu gerbang kita, menggiring masyarakat suka membaca.”

Tiba-tiba lelaki dengan rambut keriting itu diam seolah menyimak pikirannya sendiri.

“Aku jadi ingat data sebuah platform novel online milik luar. Pembacanya, paling banyak dari negara kita.”

“Nah, kan...” jawab Izack.

“Itu baru satu platform, belum yang lainnya.”

“Makanya,” ujar Izack, “Riset bilang literasi masyarakat kita rendah itu nggak benar. Yang benar, untuk mendapatkan akses buku fisik rendah. Itu mungkin benar.”

“Betul juga,” gumam Rony.

“Harga buku fisik masih mahal, karena tidak sebanding dengan pendapatan rata-rata. Sudah gitu distribusinya juga sulit karena ketidak merataan infrastruktur kita.”

“Itulah pentingnya kita punya perpustakaan digital dengan kapasitas besar yang mudah dan murah. Fungsinya untuk menjembatani itu.”

“Sampai disini, paham kan.. maksudku?”

“Paham, Bang,” sahut Rony.

“Jadi, jangan mudah dikerdilkan, Ron.”

Izack tersenyum tipis menyilangkan kaki. “Ya... Meskipun hari ini sekolah masih sibuk mengejar nilai, bukan menumbuhkan rasa ingin tahu. Tapi bagi kita, itu peluang baru.”

Merasa tak cukup dengan alat perekam, Rony mulai mencoret-coret gagasannya sendiri ke dalam note kecil sebagai bahan gagasan proposal.

“Kita perlu mendokumentasikan jejak pengetahuan negeri ini, tujuannya biar nggak hilang. Supaya mindset bangsa besar itu kembali terbentuk dan tumbuh.”

Hening sejenak.

Rony terdiam lama, lalu bersuara pelan, “Tapi Bang... bukannya e-book juga sudah banyakya?”

Izack menghela nafas, menurunkan pundaknya.

“E-book banyak, iya. Tapi itu untuk dijual. Sedangkan dari tadi yang aku bicarakan itu soal literasi gratis dan mudah diakses. Karena itu tanggung jawab negara, Ron.”

“Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan yang layak.”

“Oh... benar juga, ya?”

“Kita nggak bohong kan?”

Rony hanya tersenyum samar mengangguk paham apa yang dimaksud bosnya.

Izack menatap langit-langit ruangan.

“Goal kita sederhana: mengarsipkan semua buku berkualitas supaya bisa diakses siapapun.”

“Orang asing sekalipun?”

Setengah ragu Izack menelengkan kepala.

“Kenapa takut??”

“Kamu tahu? Beberapa negara maju menggratiskan buku-buku bagus yang bisa diakses siapapun,”

“Iya juga sih,” Rony menggaruk kepala yang tak gatal.

“Referensi itu ibarat memori bangsa, pondasi kita dalam berpikir dan bertindak.”

“Jika kita nggak punya itu, kita hanya akan jadi kumpulan manusia yang berjalan tanpa arah dan mengulangi kesalahan yang sama. Seperti kita hari ini.”

Izack memberi jeda sejenak, seolah menata pikirannya agar tak terlalu jauh melayang.

“Hari ini, kita manfaatkan internet mudah dan cepat untuk mendorong itu.”

Rony hanya mengangguk samar, antara kagum dan lelah. Lalu bersandar ke punggung sofa, menarik nafas panjang. “Bang... jujur, kepalaku mulai berat.”

Izack hanya tersenyum kecil melengoskan wajahnya sedikit geli.

“Ahh, kamu...”

“Kalian butuh kenaikan gaji, kan?”

“Iyalah,” jawabnya terkekeh.  

“Itulah peluang, kalau mau. Kejar!”

Lelaki itu membenarkan letak kacamatanya, lalu berdehem, tersenyum ragu. 

“Tapi itu terlalu berat buat perusahaan kita, Bang.”

“Sudah, gini deh. Kamu buat latar belakang masalah dulu dari keteranganku tadi. Kalau sudah, kirim ke aku. Seberapa paham kamu dengan keterangku tadi.”

“Siap.”

“Kapan? Besok?” tanya Izack seolah menantang.

Lagi-lagi Rony hanya mendenguskan tawanya.

“Satu minggu, ya, Bang?”

“Oke,”

“Serius aku tunggu ya.”

“Siap.”

Sesaat Izack terdiam.

Hening sejenak, sebelum ia membuka suara lagi.

“Dua tahun lebih aku mengendalikan AMN pusat,” katanya pelan. “Sering dengar para senior kita yang sudah jadi pejabat. Jujur, kadang cuma bisa geleng-geleng.”

Rony menatap, menunggu.

“Negara sekaya ini, mengapa masyarakatnya masih banyak yang hidup menderita.”

“Secara keuangan, kita ini jauh lebih dari kata kaya sebenarnya.”

“Hanya saja karena masyarakat kita masih mudah dibodohi. Itu semua ya awalnya dari literasi kan...”

Rony mengangguk pelan.

“Itulah kenapa, sasaran utamaku sejak dulu adalah membangun perpustakaan digital yang katamu dananya besar.”

Suasana mendadak tenang.

“Oke.”

“Jadi, sekarang yang menentukan adalah bagaimana bunyi proposal kita, seberapa pintar kita menarasikan dan melakukan lobi di meja negosiasi. Begitu kan, Bang?”

“Ya!” jawab Izack mantap.

Izack menurunkan pandangannya, lalu kembali menatap Rony penuh.

“Kalau itu sudah selesai, segera aturkan jadwal rapat untuk membicarakan itu dengan tim inti. Aku butuh pendapat dan masukan dari kalian,” kata Izack

“Kita tahu, ini proyek tidak sembarangan. Jadi, kita perlu persiapan matang.”

“Siap, Bang.”

Rony sudah siap beranjak, tapi Izack menahan gerakannya dengan satu kalimat pendek yang membuatnya kembali siaga.

“Oh ya, satu lagi. Gagasan menambah income jangka pendek.”

Rony mengangkat wajah.

“Kita bisa jalin kerja sama dengan Studio animasi untuk menawarkan film dari novel sains fiksi kita yang baru terbit kemarin.”

“Karena sejauh ini, negara kita minim bahkan langka menayangkan film-film semacam ini.”

“Ini kesempatan. Kita incar pasar yang belum tersentuh. Kalau perlu, ajak kerjasama badan penelitian milik negara atau swasta.”

Rony diam sejenak, mencoba menagkap keinginan bosnya.

“Film sains fiksi ini bukan sekadar hiburan. Kalau kita mau bikin sesuatu yang berkualitas, kita butuh riset.”

Rony tersenyum tipis, dan mengangguk.

“Oke, Bang,” jawabnya.

“Silahkan,” ucap Izack

Rony kembali melangkah keluar.

Langit di luar mulai temaram. Senja perlahan menyapu kota, perlahan digantikan gelap. 

Izack kembali duduk dan merebahkan tubuhnya ke sofa. Sekilas ia menatap langit-langit, seolah memburu detil bagaimana cara kerja dan keuangannya.

Sementara pintu tertutup pelan. Rony kembali ke meja kerjanya.

Ia meraup wajahnya dengan seulas senyum getir.

“Punya bos gila seperti ini membuatku bisa menua di kantor,” gumamnya lirih tertawa geli.

Ia kembali meletakkan laporan itu di meja.

Ruangan telah gelap. Hanya satpan yang perlahan menyalakan ruangan.

“Belum pulang, mas?”

“Belum, Pak,” ucapnya yang ditinggalkan begitu saja lelaki bertubuh gempal dengan pakaian khusus.

Ia kembali menyangga kepala.

Ingatannya melayang ke masa –dimana saat pimpinannya ini menjabat ketua cabang AMN kota Tayoga saat itu.

Dengan suara lantang ia berdiri di depan gedung pemerintah daerah, mengangkat tinggi bendera AMN, menolak kenaikan SPP dan biaya uang gedung yang makin menggila.

Dalam waktu dua minggu, wacana itu menjalar ke puluhan kampus di seluruh tanah air, lewat forum mahasiswa, siaran live media sosial, hingga trending tagar:

#PukulMundurSPPMahal #MahasiswaCerdasHarusCadas

Hingga akhirnya, organisasi mahasiswa lintas daerah membuka jalur komunikasi resmi ke anggota Dewan. Sorotan media nasional seketika riuh, tekanan publik terus meningkat, hingga konsolidasi antar badan eksekutif mahasiswa, yang menjadikan isu tak bisa diabaikan.

Lalu tiga minggu kemudian, dalam jumpa pers bersama dinas pendidikan pusat, pemerintah mengumumkan peninjauan ulang kebijakan tersebut. Namun gerakan tetap terus dikawal. Hingga akhirnya sebulan kemudian, kenaikan akhirnya dicabut.

Itu adalah prestasi terbesar Izack, menggulirkan wacana dari lorong-lorong kampus, menggandeng seluruh organisasi sosial mahasiswa.

Ia masih ingat betul, bagaimana bos mudanya itu menyusun narasi, menjadikannya isu nasional, lalu menggerakkan barisan mahasiswa memenuhi jalanan, tepat saat subsidi pendidikan resmi dicabut.

Bendera besar AMN berkibar di tengah kerumunan yang panas.

Saat itu, Rony hanya diam, mengikuti arahan tanpa banyak tanya.

Menurutnya, itulah jalan yang paling masuk akal di saat negeri ini mulai kehilangan arah.

 

***

 

Malam itu Izack kembali berdiri di depan dinding kaca. Sorot matanya tajam. Alis matanya yang tebal seakan menyambung, pikirannya melayang jauh dari sekadar kata bisnis.

Lalu tatapannya jatuh ke meja. Map tua itu masih tergeletak di sana. Tiba-tiba, layar laptopnya menyala. Di sana terpampang foto-foto dirinya semasa remaja -kusut, berantakan, tapi semangatnya jelas terlihat.

Ia sadar, saat ini adalah hasil kerja kerasnya di masa lalu, dimana dirinya berada dalam masa pahit menghadapi kenyataan.

Bahwa dirinya adalah bayi buangan di tempat pembuangan sampah akhir.

Masih ada sisa nyeri di sana, teringat bagaimana masa remaja ia lewati dengan perjuangan untuk mengendalikan diri.

Lalu matanya kembali tertuju pada latar belakang penulis. Ia merasa dirinya tak jauh beda dengan masa remajanya saat itu.

Ia kembali duduk, lalu meneruskan bacaannya.

Tak terasa terbawa arus tulisannya yang mengalir. Hingga sadar, ruangan mulai meredup. Jemarinya menggeragap mencari penerangan.

Suasana hening dan senyap dipecahkan oleh suara ketukan pintu.

“Masuk”

Ozin muncul dari balik pintu.

“Bang, jadi berangkat ke markas AMN?”

“Hm...?” Izack menatap lama, bingung mencari ingatan --apa yang perlu ia lakukan.

“Oh! oke.” jawabnya seolah kembali menemukan ingatannya.

Ia menutup naskah dan membawanya pergi, membuat Ozin melihat sekilas tentengan tersebut.

“Tumben bawa pekerjaan, Bang.”

“Hm, sepertinya ini naskah buku menarik. Tapi entah, bisa kita terbitkan atau tidak.”

“Kenapa?”

“Ah, banyak tanya kau,” tukas Izack setengah bercanda.

Ozin nyengir, ia tetap berjalan mengikuti langkah Izack yang tegas menyusuri ruangan, sepi.

 

***







 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar