Gedung AMN Pusat
Menjelang pukul satu dini hari, ruang rapat mulai terasa lebih senyap dari biasanya. Bukan karena semua masalah telah selesai, tapi karena tenaganya mulai tipis.
Nafas peserta terdengar berat, mata mereka mulai sembab dan sayu. Sesekali terdengar helaan nafas panjang yang tak lagi disembunyikan.
Izack, yang sejak tadi menjadi pusat rapat, mulai bersandar di kursinya. Tangan kanannya sesekali mengusap tengkuknya yang lelah. Matanya menatap kosong ke papan tulis digital yang menampilkan daftar nama panitia inti dan panitia lapangan yang diambil dari cabang AMN kota Madoga, kepulauan Siwalu.
"Baik," kata Izack, memecah keheningan.
"Masih ada yang belum kita sentuh?"
"Itu saja sih Bang," jawab mereka menatap lelah ke arah Izack.
"Oke. Kalau begitu, kita kunci dulu semua keputusan malam ini. Nanti detail teknisnya diselesaikan masing-masing divisi. Kita ketemu lagi minggu depan, hari jumat malam sabtu."
Izack menoleh ke kanan, memastikan notulen yang mencatat secara otomatis sudah selesai merangkum hasil rapat.
"Terima kasih, semua," ucap Izack akhirnya. "Hati-hati di jalan."
Begitu kalimat itu meluncur, terdengar helaan nafas lega. Beberapa orang mengangguk lemah. Satu-dua orang segera memasukkan laptop ke dalam tas. Pendingin ruangan pun mulai dihentikan.
***
Malam kian pekat, saat mereka meninggalkan markas AMN.
Hanya tersisa Izack dan dua orang dengan jaket semi formalnya yang baru saja melangkah keluar. Mereka menuruni tangga sambil bercanda.
"Makanya... apa perlu aku carikan pacar buatmu?" Ucap Dido, ketua harian AMN Pusat.
Izack mencibir. "Segitu amat!"
"Stok dia terlalu banyak, Bro. Dia aja yang susah." Kata Rury, lelaki berkaca mata tebal, sekretaris AMN Pusat.
Izack tersenyum manis setengah geli melengoskan wajah, "Kau kira apaan, stok."
"Kongres besok tuh... ajang cari jodoh, jangan ngurusi negara doang."
Izack hanya tersenyum samar, "Jodoh kok dicari."
Lelaki berkaca mata tebal itu kembali mendekat Izack, saat Dodi pergi meninggalkan jejak suara motor listriknya.
"Jangan dianggap omongan dia, Zack. Mulutnya emang begitu sejak dari jaman S1," katanya.
"Yuk! Duluan," lanjut Rury. Ia menyalakan mesin motor dan pergi.
Izack kini berdiri sendiri, memandang gedung empat lantai bercat biru laut dan putih di depannya. Bangunan kokoh itu menjulang dalam gelap, menyimpan jejak perjuangan mahasiswa di tengah kondisi negara yang makin tak menentu.
Dulu, ia sempat merasa gamang saat pertama kali melangkah ke gedung itu -simbol kebanggaan anak-anak AMN dari seluruh penjuru tanah air. Namun dalam satu tahun terakhir, ia berhasil membawa nama AMN melampaui batas negara.
Dan kini, keanggotaannya tembus ke tujuh negara, yang dianggap strategis.
Prestasi lain yang tak kalah membanggakan bagi dirinya adalah ketika ia berhasil membuat tim IT yang lebih serius dan profesional, demi menjaga keamanan data anggota dari seluruh cabang AMN, termasuk agenda rapat beserta wacana yang mereka usung di tiap daerah.
Kini, udara sedikit terasa berat dan lengket oleh kondisi udara kota metropolitan yang makin kurang bersahabat.
Ozin telah berdiri di depan mobil, siap membukakan pintu. Izack masuk ke dalam mobil sambil memejamkan matanya yang lelah. Ia melirik sekilas ketika Ozin menutupkan pintu, lalu melepaskan nafas panjang berusaha meluruhkan ketegangan otot dan urat syarafnya yang terasa kaku.
Tapi sesaat matanya berkeliling mencari sesuatu.
"Dimana naskah itu?" tanyanya tiba-tiba, membuat Ozin -sopir sekaligus asistennya- menoleh sekilas dari kursi depan.
"Naskah apa, Bang?" tanya Ozin, heran namun tetap sigap memegang setir.
"Oh... aku letakkan di tumpukan itu, Bang" Jawab Ozin buru-buru menjelaskan begitu menyadari maksud bosnya.
Tangannya segera meraih map cokelat yang terselip di antara barang-barang. Refleks ia mulai membuka dan mengeluarkan naskah itu dari mapnya.
Tapi alih-alih langsung membaca, matanya justru menerawang keluar jendela.
Cahaya lampu jalan berganti-ganti memantul di kaca mobil, menciptakan siluet di wajahnya yang terlihat serius.
Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Ia masih penasaran dengan sosok misterius penulis naskah sejarah itu -yang katanya ditulis oleh anak Mahasiswa semester dua.
Izack mendengus kecil. "Mahasiswa semester dua, mana ada yang bisa menulis naskah seberat ini." pikirnya skeptis.
Ia mengeluarkan ponsel dan mulai scroll daftar kontak. Ia menyambungkan earphone.
Awan. Pemilik penerbit lokal dari kota Tayoga.
Tapi panggilan itu tak diangkat, meski berkali-kali dihubungi.
Chat dan voice note yang dikirim sejak sore juga belum dibuka.
"Kamu ini pebisnis, tapi telepon nggak kamu angkat, chat juga nggak kamu jawab. Gimana bisnismu bisa berkembang lancar, Bung?!" gerutu Izack lirih.
Ia kembali membuat panggilan. Tapi kali ini, ketu AMN Cabang Tayoga.
Leo.
Sama juga tak diangkat.
"Ah... terlalu larut, kali ya?" pikirnya.
Ia teringat Hendrik -teman akrabnya waktu kuliah S1 di kota Tayoga.
Sekali panggilan, langsung terjawab.
"Halo, Bro!" Sapanya ketika panggilan itu tersambung.
"Hendrik, kira-kira daerahmu siap nggak kalau dijadikan tempat kongres alumni tahun ini?"
Hendrik sempat terdiam beberapa detik sebelum menjawab. "Kalau secara tempat sih bisa diatur, Bro. Lagipula di sana lebih luas gedung dan ruang parkir dibanding tahun kemarin di kota Tayoga"
"Tapi aku belum tahu siapa saja yang siap turun bantu dari cabang."
"Kalau itu sih, teman dari pusat sudah ada daftar nama-namanya dan sudah dikomunikasikan. Ini aku cuman memastikan tempatnya aja."
"Luas kok, lumayan lah... untuk acara sebesar itu."
"Oke, baguslah kalau begitu."
Sejenak Izack terdiam, memandang map di tangan.
"Hmm... Kamu tahu yang namanya Luchika Aria?"
Sejenak suara di ponsel terdiam, seperti sedang mengingat-ingat.
"Hm, kenapa?" jawab Hendrik. "Dia tetangga depan kosku. Panggilannya Chika."
Dahi Izack mengernyit, "Oh?!"
"Cowok atau Cewek?" nada Izack serius.
Spontan suara tawa terdengar bergetar di ujung ponselnya "Cewek lah,"
"Mana ada panggilan Chika, untuk cowok."
Izack terdiam sejenak, tatapannya masih mengarah ke luar jendela.
"Oh..." jawabnya masih bersandar di jok mobil.
Satu tangan memegang map, satu tangan menggenggam ponsel. Lampu di luar terus berkelebat di kaca jendela, memantulkan cahaya redup ke dalam mobil.
Di seberang telepon, Hendrik tertawa kecil. "Kalau di sini, dia lebih dikenal sebagai anak blesteran."
Izack mengernyit. "Maksudnya?"
"Iya, rambutnya agak kemerahan, matanya kecil, kulitnya putih pucat, kurus pula."
Izack mengangkat alis. "Cantik nggak?" tanyanya terdengar ringan dan iseng.
"Kalau nggak cantik, nggak ada yang melirik. Bro!" tawa Hendrik makin lepas.
Glekkk...
Izack tiba-tiba diam, pikirannya berkelebat membayangkan sosok gadis imut dengan kulit pucat, mata kecil yang tajam, rambut pirang yang mungkin sedikit berantakan. Tambahkan sedikit bibir mungil yang basah.
"Ah, sialan!" pikirnya, membantah pikirannya sendiri.
Ia menghirup nafas panjang. Seolah menyadarkan dirinya untuk selalu menjaga kesadarannya. Karena beberapa perempuan yang dekat dengannya, selalu saja nyaris menjatuhkannya.
Ini bukan takut pada cinta --tapi takut mengulangi luka yang sama. Melakukan hubungan yang tak pantas sebelum saatnya, hingga menanggung luka seperti dirinya yang terlahir sebagai bayi yang tak diinginkan keberadaannya.
"Tapi," suara Hendrik kembali memecah lamunannya. "Dia terlalu cuek, sih."
"Ditambah nggak peka soal perasaan orang, pula."
Persepsi Izack langsung berubah total. Sebelumnya membayangkan gadis lembut yang manis, kini berubah total menjadi gadis dengan ekspresi datar, sikap tak peduli, dan mungkin sedikit jutek.
"Kepiting galak," gumamnya tanpa sadar.
"Hah?" Hendrik terkekeh. "Nggak begitu juga sih, Zack."
"Terus?" tanya Izack lagi. Kali ini dengan nada yang tak seantusias tadi, namun jelas ia belum selesai menimbang sosok itu dalam kepalanya.
***
Izack kembali menyandarkan punggung, menatap langit malam di balik jendela mobil. Ia mengalihkan pikirannya yang sebenarnya masih penasaran dengan sosok gadis itu. Tapi sebagai lelaki yang banyak didambakan perempuan, ia sedikit gengsi. Lalu mengalihkan topik pembicaraan yang menurutnya jauh lebih penting.
"Oh ya, gimana dengan wacana komunitas para akademisi yang dulu kalian diskusikan itu?"
"Civitas Akademika Peduli Negara?"
"Oh... sudah kalian beri nama kah?"
"Hm, sudah."
"Lha ya itu Bro!" sahut Hendrik
"Kita nggak punya akses lebih, kecuali senior kita yang sudah jadi dosen dan peneliti terdekat aja."
"Dan itu, mereka juga bukan orang AMN."
"Ya nggak masalah kan?" jawab Izack.
"Tapi setidaknya kita butuh satu orang yang punya power, Zack."
"Dan sejak kamu pindah ke pusat, cabang Tayoga ini benar-benar kehilangan greget."
"Termasuk Hayes yang dulu paling lantang bersuara," tambah Hendrik.
Izack menarik nafas, menimbang cepat.
"Gimana dengan ketuanya?" tanya Izack lagi.
"Leo sibuk sama proyek penelitiannya."
"Kemarin yang menanggapi proyek CAPN ini cuman anak-anak baru. Percuma, kan? Nggak ada gaungnya."
"Hei... jangan remehkan anak baru, Bro!"
"Makanya kau kesini lah."
Izack tersenyum samar. "Tunggu, aku sempat kepikiran memperkenalkan CAPN ke forum Kongres Alumni nanti."
"Serius?!" Suara Hendrik sedikit meninggi.
"Tapi kalian dari cabang harus solid dulu, seperti apa komunitas ini jelasnya. Dan ini kalian sendiri yang harus maju."
"Narasi kalian juga harus matang. Bukan cuma dengan semangat. Tapi data, arah dan dampaknya apa, harus jelas lah. Nanti aku jembatani, dan dukung kalian, deh."
"Oh ya, sabtu besok kita bahas itu, Bro!" kata Hendrik antusias.
"Kamu kesini lah. Nanti aku suruh Luchika datang deh,"
Kata itu membuat Izack spontan terdiam. Ada perasaan asing yang perlahan menyelusup. Bahagia? Atau... entah.
Tapi sebelum pikirannya terlalu jauh, Hendrik kembali bersuara, lebih pelan.
"Eh, tunggu-tunggu. Aku tanya Heni dulu deh, bisa nggak ajak anak itu ke cabang."
"Dia kan anggota divisi jurnalis. Anak bimbingannya Leo." Jelas Hendrik.
"Leo... ketua cabang?" Izack mengulang dengan nada netral. Tapi matanya menatap kosong ke luar jendela, seolah ada yang mulai berubah dalam pikirannya.
"Hm, iya."
"Oh? Dia anak cabang juga?" tanya Izack penasaran.
"Karena ditarik Leo aja, langsung masuk divisi jurnalistik."
Izack mengernyit. "Ceweknya Leo, jangan-jangan?" godanya.
Hendrik tertawa lepas. "Mimpi apa aku! Chika punya pacar?"
"Hgh?! Kenapa emang?!"
"Dia itu cewek yang nggak butuh lelaki, Bro!" tawa Hendrik lepas. "Teman dekatnya cuma satu, -tetangganya sendiri, cowok pendiam pula."
"Tapi yang pasti, Chika ini jaga diri banget."
Izack mendengus kecil. "Seprotektif itu kah?"
"Bukan cuma protektif," ujar Hendrik, suaranya berubah. "Kalau ada cowok yang sok akrab... Sentuh dikit aja, bisa-bisa ditonjok."
"Serius?!" Izack tertawa kecil.
"Serius."
Izack mengangkat alis, setengah tak percaya. "Ampun... galak banget."
"Makanya apa aku bilang: ngeri."
Izack makin penasaran. "Anaknya yang seperti apa? Aku pernah ketemu kah?!"
Hendrik menyeringai. "Kalau kamu lihat... bisa jatuh hati. Bahaya."
"Hah! Segitu murahnya aku,"
"Ya ya... aku tahu, kamu cowok paling dingin sejagat," ledek Hendrik.
Hening itu kembali menyelinap.
"Aslinya dia itu cantik. Tapi ya itu, bukan tipikal lemah lembut yang bisa tampil anggun ala drama romantis gitu."
"Tapi... tetap aja menarik, sih." Kata Hendrik lagi.
Izack mengangguk pelan, mencoba membayangkan.
Hendrik kembali bersuara. "Pernah, aku lihat dia manjat pagar hutan kampus."
Izack tersedak, "Haaa?!"
Spontan Ozin kaget, tapi ia hanya melirik sekilas spion di atasnya.
Keduanya tertawa lepas, spontan.
"Bukannya pagar itu tinggi banget, ya?!" sambung Izack, masih heran.
"Kan...?" jawab Hendrik.
"Terus, dari mana dia manjat?"
"Entah?!! Pokoknya aku lihat dia sudah di atas pagar gitu, lalu loncat ke trotoar pinggir jalan."
Izack menggeleng setengah geli, setengah tak habis pikir. "Ampun..."
Sisa tawa Hendrik perlahan hilang, terganti nada kagum.
"Lihat anak itu seperti lihat tokoh fiktif. Aneh, keras kepala, tapi nyata. Dan kok bisa... ada anak seperti itu."
"Biasanya kan cewek dengan fisikly seperti itu, anaknya lembut, manis, anggun. Tapi dia? Beughh!" Tawa Hendrik mengundang rasa ingin tahu Izack makin dalam. Tapi ia sadar, harus berhenti berhalu. Namun tetap aja, keinginannya bertemu makin kuat.
Izack pun segera mengakhiri panggilan, ada rasa lebih dari sekadar kata penasaran.
"Oke, gitu dulu ya" kata Izack akhirnya.
"Berarti kamu jadi kesini kan?"
"Emm... oke."
"Tapi kamu beneran bisa jamin anak itu datang, ya."
"Siapp... Pak ketua." Hendrik tertawa meledak.
"Ngomong-ngomong, ada apa nih?"
"Tumben banget kamu tanya soal cewek."
Izack sedikit gelagepan, pelan ia menetralkan suaranya.
"Ah... naskahnya dia yang dikirim ke penerbitnya Awan, masuk ke tempatku."
"Kok bisa??"
"Tulisannya berat, Bro."
"Kenapa?"
"Mirip tulisan pelaku sejarah."
Izack membolak-balikkan map di pangkuannya. Batinnya terus bergumam, "Nggak yakin aja, ada anak semester dua kok bisa menulis buku seberat ini."
"Oh..."
"Katanya sih, ayahnya tahanan politik. Kakek dan buyutnya itu orang-orang penting masa perang dulu."
"Oh ya? Terus-terus?"
"Makin masuk akal, sih." Gumamnya pelan.
"Ya sebatas itu aja, yang kita tahu."
"Punya kontaknya dia?" tanya Izack lagi.
"Nggak ada. Dia nggak pernah mau kasih nomor. Punya HP sih, tapi jadul banget, dan anaknya pendiam. Nggak ada yang berani tanya."
"Apalagi dia sibuk kerja serabutan: dari ngelesi anak sekolah, jaga SPBU, kerja di warung makan, sampai cuci dan nyetrika baju anak kos."
"Hah?! Katanya penulis?"
"Terus kuliahnya gimana?"
"Ya kuliah,"
"Oh..." jawab Izack akhirnya kembali pamit memutuskan panggilan.
Sampai di detik itu Izack terdiam. Ia segera pamit, lalu menarik nafas panjang.
Map cokelat besar di pangkuannya terasa makin berat.
Ia masih menggenggam ponsel, tapi pikirannya melayang. Menatap jalanan di tengah kemacetan, pikirannya tersedot pada potongan cerita tentang Luchika Aria --mahasiswi kehutanan, yang belum pernah ia lihat, tapi kini sosoknya begitu nyata di pikirannya.
Ia teringat pada masa remajanya. Bagaimana dirinya pernah kehilangan arah, tapi bukan demi sepiring nasi seperti gadis itu.
Semua seolah membuka luka lama yang belum sepenuhnya sembuh.
Ia menunduk. Menatap map cokelat di pangkuannya --seolah benda itu menjadi saksi bisu perjuangannya.
Keringat, luka, dan rahasia yang tersembunyi di dalamnya.
"Ozin," suaranya pelan, tapi tegas.
"Ya, Bang?"
"Lusa aku ada acara nggak?"
"Nggak, Bang. Aman. Gimana?"
"Tolong carikan tiket kereta ke Tayoga. Sekarang."
Ozin mengerutkan kening. "Untuk jam berapa?"
"Lebih cepat, lebih baik."
"Oke" jawab Ozin mengangguk. Ia melirik sekilas dari spion.
Lelaki dengan wajah sedikit berminyak itu tampak lebih tenang, namun tatapannya terlihat dalam pada map di tangannya.
Seumur hidup, baru pertama kali ia terpikat oleh bayangan seorang gadis yang bahkan belum ia kenal sama sekali. Tapi kali ini berbeda.
Ia ingin bertemu.
Bukan karena penasaran semata.
Tapi karena hatinya tahu:
Gadis itu bukan sosok biasa.
Mobil perlahan menepi ke jalur kanan. Begitutanda putar arah terlihat, Ozin memutar setir menuju stasiun kereta --menuju awal,dari sesuatu yang belum ia ketahui pasti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar