Minggu, 18 Januari 2026

Bab 1. Negeri yang Lupa Menjadi Besar

 Menjelang sore, seorang lelaki berwajah lembut berdiri di depan jendela sebuah ruang kantor. Suasana cukup tenang dan sunyi. Tak lama kemudian ponselnya bergetar.

"Halo, iya Ma?"

"Kamu sekarang dimana, Nak?" suara lembut terdengar di ujung telphon.

"Di kantor penerbitan, Ma. Ada apa?"

"Mulai belajar memikirkan dirimu sendiri, Zack..."

"Iya Ma,"

"Kata Papa, besok malam mau diajak ketemuan sama Pak Mentri Pertahanan, tuh."

Izack mengernyit "Ada urusan apa??"

"Hm... kebetulan putri beliau baru pulang dari luar negeri."

Izack menghela nafas panjang. Ia sudah menebak.

"Lalu... apa hubungannya denganku?"

Izack tersenyum tipis. "Ma, urusan lain Mama boleh atur deh... Tapi soal itu, biar Izack yang tentukan."

"Oke, Ma?" lanjutnya, siap menutup panggilan.

"Tunggu, tunggu!"

Izack menurunkan pundaknya. "Tolong, Ma... Dalam waktu dekat ini, AMN bakal adakan acara Konggres Akbar Alumni AMN."

Ia menutup ponsel dan menarik nafas panjang.

Alvin yang sejak tadi bersandar di meja, akhirnya tertawa kecil.

"Mamamu, ya?"

"Hm,"

Alvin nyengir. "Mampus! Apa kataku, Bro? Punya pacar itu penting, menghindari perjodohan."

Izack berkecap kesal. "Jujur ya, aku belum berpikir soal itu di saat perusahaan dan AMN belum tegak kakinya."

"Demi perusahaan, kamu rela melajang sampai tua begitu?"

"Halo, Vin... Apa kabar dengan hutang?"

"Kalau aku leha-leha sepertimu yang tinggal menikmati warisan ortu, mau dibawa kemana hidupku?"

Alvin tergelak. "Makan tuh hutang. Perusahaan sebesar ini, dengan hutang segitu mah receh."

"Sudah ah, minggir sana!" wajah Izack mrengut.

"Ampun... Galak banget." Alvin tertawa, meloncat turun dari meja.

Tapi tawa mereka terputus saat ada ketukan pintu.

"Oke, Bro. Cabut dulu," pamit Alvin segera pergi meninggalkan ruangan.

"Yup!"

Lelaki paruh baya melangkah masuk, dengan membawa sebandel map cokelat.

"Pak Izack, ada naskah buku dari penerbit rekan bapak di Tayoga."

Izack mengangkat alis. "Awan?"

Ia meraih map. Di dalamnya, lembaran ketikan manual, beberapa halaman penuh coretan tipe-x.

"Sepertinya penuturan orang-orang tahanan politik," jelas Pak Yusuf. "Bahasanya ringan, padahal kisah nyata."

Izack menatap kosong.

"Dan... sepertinya ada dokumen negara yang tersembunyi di sana," ucap Pak Yusuf lagi.

Izack menajamkan tatapannya. "Dokumen apa, Pak?"

"Bapak tahu kasus hibah emas dari raja-raja kita sebelum berdirinya negeri ini?"

"Iya,"

"Nah, itu!" jawab lelaki paruh baya itu mantap.

"Bukankah itu hanya rumor saja, Pak?"

"Hm. Tidak Pak. Itu ada, dan disebutkan di buku ini."

"Salah satunya untuk mendirikan Yayasan PENDABA (Pendidikan Darurat Bangsa) foundation?"

"Oh ya?"

"Coba bapak baca."

"Melihat latar belakang keluarga bapak... dan organisasi politik mahasiswa yang bapak pimpin, saya yakin ini menarik."

Izack membolak-balik lembaran, tidak ada biografi di sana.

"Penulisnya?"

"Kabarnya sih mahasiswa semester dua."

"Maksudnya?" Izack senyum setengah meremehkan.

"Iya, saya juga bingung. Darimana dia mendapatkan data seperti itu."

"Mana biografi penulis nggak ada juga."

"Ya... Kalau memang ada nilai yang diperjuangan, harusnya berani menghadapi prosesnya lah... Bukan seperti jualan kucing dalam karung, begini." Izack tertawa kecil meletakkan map di meja.

Ruangan hening sejenak...

Lelaki itu kembali melanjutkan kata-katanya.

"Meskipun mungkin kalau buku ini beneran terbit, bakal ada dua kemungkinan: dibredel sama pemerintah, atau penulisnya yang diburu," jawab Pak Yusuf.

Izack mengernyit, menatap map. "Maksudnya??"

"Coba Bapak baca sedikit dulu aja deh, nanti bakalan tahu," jawab lelaki itu, menarik penasaran Izack lebih dalam.

Perlahan Izack membuka lembaran demi lembaran.

"Oke,"

Lelaki setengah baya itu membungkuk ringan, lalu pergi dan menutup pintu perlahan.

Ruangan kembali hening. Hanya detak suara jam, dan gemuruh suara kota yang terpantul lewat dinding ruangan yang kedap.

"Luchika Aria," bacanya pelan.

"Hmmm... nama yang unik."

Ia menyipitkan mata, membolak-balik beberapa lembaran.

Tak ada foto, tak ada biografi.

"Ini cewek atau cowok?" gumamnya.

Ia menarik nafas, lalu mulai membaca –paragraf demi paragraf.

Dan... seperti terseret arus, ia tak sadar waktu mulai bergeser pelan.

***

Entah berapa jam sudah berlalu, bolak-balik ia beranjak dari tempat duduknya hanya untuk mengambil air minum dari gelas yang kosong berkali-kali.

Hingga akhirnya sadar, langit di luar berubah menjadi warna kuning keemasan. Ia meraih ponsel dan menelpon.

"Ada kontak penulisnya, pak?"

"Tidak ada, Pak Izack... Katanya penulisnya nggak punya HP."

"Hari gini, mahasiswa nggak punya HP?"

"Maaf, Pak Izack... Keponakan saya kuliah di universitas negeri. HP-nya juga masih gantian sama adiknya yang smp."

"Ada informasi lain selain itu?"

"Kabarnya, penulisnya ini anak AMN."

"AMN Cabang mana?"

"Tayoga, Pak."

Izack diam sejenak, ia bergumam dalam batin.

"Kalau anak AMN Cabang Tayoga, harusnya Leo dan Hendrik kenal."

"Ini... mirip buku sejarah orang-orang jaman dulu, cuman bahasanya sudah diubah."

"Itu dia, Pak."

Izack mengangguk-angguk sendiri.

"Ya sudah. Saya urus sendiri."

"Baik, Pak Izack."

Izack pun memutus panggilan.

Hening.

Izack masih membolak-balikkan naskah. Ia juga membuka lembaran demi lembaran. Barangkali ada selipan catatan informasi penulisnya, di sana.

***

Sore itu Izack masih berdiri menatap jendela.

Terdengar suara ketukan pintu, Izack menoleh.

"Masuk,"

Rony masuk membawa map laporan, menyerahkannya.

Izack kembali duduk, meneliti dengan tajam lembar demi lembar, lalu menandatangani cepat. "Bagus. Ternyata strategi menerbitkan komik sains bisa mendongkrak penjualan buku-buku lainnya."

"Tapi ini masih jauh dari target, Bang," sahut Rony.

"Ya nggak apa-apa. Yang penting grafiknya nggak turun," balas Izack santai.

Izack kembali berdiri, menatap pemandangan kota.

"Sebenarnya ada proyek besar yang bisa kita garap,"

Rony mengernyit. "Apa itu, Bang?"

"Perpustakaan digital nasional,"

"Bukannya sudah ada?"

"Iya, tapi yang ada sekarang kesannya setengah-setengah."

"Kamu pernah akses?" tanya Izack.

Rony mengangguk kecil. "Sudah, tapi lambat banget."

"Daftarnya juga ribet," tambahnya.

"Itu untuk kita yang tinggal di kota besar. Kebayang nggak, kalau tinggal di pelosok?"

"Hm... bahkan bisa jadi, nggak tahu, Bang."

"Nah!"

Izack membalikkan badan.

"Kamu tahu? Hanya berapa persen saja buku yang berhasil didigitalkan di sana?"

Rony mengangkat wajah.

"Nggak sampai lima puluh persen dari buku yang pernah beredar."

Rony bergumam pelan, "Oh ya? Sedikit banget."

"Itu tuturan dari pimpinan yang buat platformnya."

"Hm," Izack mengangguk cepat.

"Belum lagi naskah kuno yang harusnya segera diselamatkan," lanjutnya.

Kini lelaki itu beranjak, lalu duduk di sofa. Rony ikut duduk di sana.

"Maksudnya, Abang mau mengarah perpustakaan digital mirip negara tetangga itu, ya?"

"Ya,"

"Wah... itu mah, mega proyek. Dananya nggak main-main."

Izack tersenyum kecil, miring, seperti sudah menebak respon itu.

"Kita ini negara kaya, Ron. Pemain tambang terbesar di dunia."

"Iya sih, Bang,"

Kata-katanya seolah menggantung. Izack melanjutkan.

"Tapi sialnya, kita ini lupa caranya jadi bangsa yang besar."

Rony ikut tertawa mengakui itu.

"Negara sebelah yang luasnya tak lebih dari luas kota ini saja bisa bikin perpustakaan digital dengan kapasitas sepuluh kali lipat dari kita. Masa kita nggak bisa?"

Rony tergelak. "Padahal mereka juga nggak punya sumber daya alam."

"Ya!"

Lelaki itu mengangguk.

"Makanya, jangan kerdilkan dirimu."



Tidak ada komentar:

Posting Komentar