Sore itu suasana cukup hening. Matahari bersinar hangat mulai turun. Sinar keemasannya memantul mengenai aspal yang gelap.
Hanya ada anak-anak yang melintas bersepeda.
Tak berapa lama kemudian Chika dan Rendra melintas di belakang Izack yang tengah asyik ngobrol dengan lelaki tua itu.
Chika tahu, bapak itu adalah dosen ilmu Hukum di kampusnya, yang konon katanya juga mantan ketua AMN cabang Tayoga yang ke empat. Dan sekarang, beliau sering mengisi kajian rutin di AMN seputar hukum.
Izack sempat menoleh –hanya sekilas—lalu kembali berbincang, seolah tak pernah mengenal Chika.
"Teman-teman AMN Tayoga berencana mengusung wacana pembentukan ruang para Akademisi sebagai penuntun kebijakan pemerintah, nih. Prof..."
"Oh, ya?! Bagus itu. Gimana mekanisme kerjanya?"
"Makanya datang ke Kongres, lah. Prof..."
"Kapan sih?"
"Kurang lebih satu setengah sampai dua bulan lagi, lah."
"Coba deh, nanti. Saya lihat jadwal dulu."
"Masih ngajar kuliah di kampus seberang, Prof?"
"Masih,"
Chika dan Rendra yang cukup jauh dari mereka, saling melirik.
Rendra berpaling "Kenal, kamu?"
"Cuman tahu aja."
"Siapa sih, aku Ren..."
"Anggota divisi jurnalis yang nggak pernah datang, gara-gara waktu habis buat kerja."
"Mereka, masih bisa nongkrong sambil makan-makan."
"Aku??"
Keduanya menarik nafas bersamaan, lalu saling melirik dan tertawa. Seolah sedang menikmati kepahitan diri mereka.
Hening.
Seperti teringat sesuatu, Chika kembali berpaling ke Rendra.
"Oh ya, mana? Katanya mau kamu pinjami laptop barumu?" tanyanya.
Langkah mereka sempat terhenti saat mendekati Basecamp AMN.
Tanpa banyak bicara, Rendra mengeluarkan sebuah laptop yang dibungkus sarung busa hitam. Chika segera mengambilnya dan memasukkan ke dalam tas punggungnya. Spontan, ia melirik Rendra.
"Oh, iya. Terus, tugasmu gimana?"
"Tenang... masih ada komputer kantor."
"Oh..."
Begitu laptop masuk tas, Rendra menyerahkan paper bag mika kecil.
"Apa ini?" tanya Chika bingung.
Ia mengangkat paper bag tersebut, memperhatikan mini black forest yang tampak dari sebagian sisi mika.
"Bom," jawab Rendra cepat.
Spontan Chika tertawa lebar. Tapi sesaat ia tetap melirik curiga.
"Jangan bilang kamu naksir cewek, terus ditolak. Lalu cokelat ini akhirnya kamu buang ke aku."
"Ampunnn..." sambung Rendra santai.
Spontan Chika terkekeh.
"Biasanya kan begitu," ucapnya nyolot.
Rendra yang kembali berjalan di depannya tiba-tiba terhenti, menatap lama mata Chika yang polos. "Nggak ingat? Sama tanggal lahirmu sendiri?"
Kalimat itu terdengar Izack yang baru saja melewati mereka. Mereka melangkah lebih dulu, membuka pintu pagar besi yang tingginya hanya se-perut.
"Seumur-umur baru kali ini, ada orang kasih kado di hari ulang tahunku," ucap Chika nyengir, terdengar getir, matanya berbinar tertuju pada bingkisan kecil.
"Serius?!!" mata Rendra melotot tak percaya.
"Ya ampun, Nak... kasihan amat," tambahnya, mencoba mengelus ubun-ubun Chika.
Tapi tangan gadis itu bergerak cepat, menangkis tangan lelaki –yang poninya selalu menutupi wajah tampannya— sebelum sempat mendarat ke kepala.
Dengan sekali gerakan, Chika berhasil melintir tangannya ke belakang.
"A a a Akh! Sakit! Sakit!!" teriak Rendra.
Izack yang tengah menutup pintu gerbang, ekspresinya campuran antara ngeri dan geli.
Tapi Chika tetap tak bergeming. Tangannya mencengkeram kuat.
"Lepas, lepas!!" teriak Rendra kesakitan.
"Sudah aku bilang, kan... jangan suka colek-colek," kata Chika dengan nada pelan tapi tegas.
"Kamu sendiri sentuh tanganku, kan?"
Seperti baru sadar, Chika langsung melepas tangannya.
Izack membalikkan badan sambil tersenyum geli, lalu kembali melangkah. Sementara dua orang lelaki di sebelahnya tampak mengumpat tak suka. Tapi Izack tak peduli dengan kata-kata itu.
Terlihat jelas –di balik canda dan pukulan ringan itu, hubungan mereka sudah lama terjalin. Tapi tak lebih dari kata teman.
Chika menoleh ke arah Rendra yang masih mengusap lengannya.
"Besok kau ulang lagi, aku tendang kemaluanmu tuh!"
"Hoogh!! Ampun! Bukannya ucapan terimakasih, malah bikin sakit semua badan," gerutu Rendra kembali melangkah.
Langkah Chika terhenti, pundaknya turun melepaskan tawa. "Haha... ya maaf," ucapnya pelan.
Dari teras depan basecamp, terdengar sorakan kecil.
"Pak Ketua datang!" seru salah satu junior yang tengah duduk-duduk santai.
Izack mengangkat tangan, melambai sambil tersenyum lebar.
"Halo Zack!!" sambut dua orang senior.
Lelaki itu langsung menghampiri untuk berjabat tangan.
Glekk...
Langkah Chika spontan terhenti.
"Ketua?" bisik Chika nyaris tak terdengar.
Langkah Rendra ikut berhenti. "Siapa orang itu?"
"Ketua Umum AMN pusat, mungkin," jawab Chika pelan. "Heni nge fans banget sama dia, sampai aku muak dengar ceritanya."
"Ooh... wajar lah. Elegan, tenang, kharismatik juga," gumam Rendra menatap jauh.
Ada rasa hangat yang diam-diam menyelinap, tapi Chika berusaha menyangkal itu.
"Biasa aja, makannya juga nasi sama lauk seperti kita."
Tanpa sadar, Rendra kembali meletakkan tangannya di pundak Chika yang lebih pendek.
"Jangan bohong... aku tahu kamu sempat grogi, tadi."
"Kasihan amat kau, Nak... mimpimu terlalu tinggi," ujarnya sok bijak.
Refleks, Chika mencapit tangan itu turun.
"Berapa kali aku ingatkan kamu, hah?!"
"Hwkwk... sory, sengaja. Soalnya dari tadi kamu memperhatikan cowok itu terus."
"Padahal sudah ada cowok di sebelahmu,"
Spontan Chika menoleh, tatapannya tajam. "Memangnya kamu cowok?"
Rendra melotot, tapi Chika justru menertawakannya.
"Di mataku, kau ini sama jenis seperti aku."
Rendra menghela nafas, pasrah.
Chika mengangkat dagunya, "Lagian... sebel banget aku dikasihani. Berasa orang kere beneran."
Spontan Rendra terkekeh-kekeh, menertawakannya tanpa ampun.
"Emangnya kamu kaya?!!" ledek lelaki gondrong itu, dengan ekspresi dramatis.
"Iyalah!" jawab Chika tak mau kalah. Ia membusungkan dada. "Kaya hati, kaya pikiran..."
Rendra menyipitkan mata. "Kaya wajah... enggak?!"
Spontan Chika tertawa terkekeh.
Izack yang melihatnya sekilas, hanya terdiam. Sorot matanya jelas tidak suka dengan senda gurau mereka.
Chika kembali berceloteh. "Aku mah sadar diri, wajah pas-pasan," ujarnya. Ia mengibas rambut panjangnya sok percaya diri. "Tapi inner beauty-ku aja yang nggak bisa bohong."
"Hahaha... Dasar narsis!"
"Iya kan? Mana ada cewek sepertiku yang tanpa usaha, dapat banyak sambutan hati lelaki."
Rendra mencibir sewot.
"Tetep aja masih jomblo,"
"Karena standarku tinggi, bos!"
"Halah! Banyak omong."
Chika kembali tertawa renyah sambil mengeratkan tas punggungnya.
"Oke, terimakasih lah pokoknya!" serunya sambil melambaikan tangan.
Rendra melanjutkan langkah sambil memijit bahunya yang masih terasa ngilu.
Chika sempat memandangi punggungnya. Ada sedikit rasa bersalah karena ia terlalu keras, tadi.
Apapun itu, harusnya Rendra sadar sejak dulu –ia tak suka disentuh. Apalagi dia lelaki. Bukan karena trauma masa lalu, ia hanya risih.
Rendra adalah satu-satunya orang yang selalu hadir saat ia membutuhkan pertolongan apapun, di kota ini. Bahkan sudah seperti saudara sendiri. Tanpanya, mungkin ia tak akan punya nyali datang ke kota sebesar ini untuk melanjutkan kuliah. Apalagi di jurusan terbaik di kampus itu.
Bekal modal utama adalah menggadaikan sertifikat rumah orang tuanya ke Bank. Dan itu, tanpa sepengetahuan keluarga paman, apalagi Rendra.
Itulah mengapa, hari-harinya sering diiringi dengan ketegangan menetapkan batasan diri, agar tak goyah dari godaan apapun. Meskipun banyak orang mengira dirinya pacaran dengan Rendra, karena seringnya jalan berdua kemana-mana. Termasuk teman-teman Basecamp.
Waktu awal semester, keduanya sering berjalan berdua menuju Basecamp. Karena Rumah Singgah tempat Rendra bekerja, memang tak jauh dari sana. Mereka sering bertemu di sana sekedar untuk pinjam uang, kamera atau barang lainnya.
Suasana masih riuh ketika Chika melangkah pelan, menyusup di antara kerumunan di teras. Obrolan seru bercampur tawa memenuhi udara, sementara Izack hanya menanggapi sesekali –menjawab sapaan teman-teman seangkatan Chika, termasuk Heni, teman kostnya.
Namun Chika justru terus melangkah pelan sambil mengambil potongan kertas di dalam blackforest. Seolah ada jarak di antara dirinya dan dunia sekitar.
Ia membuka lipatan kertas kecil dalam paper bag, lalu membacanya sambil tersenyum samar.
Buatmu yang nggak pernah makan blackforest,
Selamat ulang tahun.
Nikmati cokelat sesekali dalam hidupmu, sebagai tanda bahwa perjalananmu tidak akan pahit selamanya.
Aku juga berdoa; semoga segera dipertemukan cowok mapan, tampan dan berkepribadian tinggi seperti impianmu.
Rumah pribadi, mobil pribadi, pekerjaan pribadi alias CEO.
Spontan Chika terkekeh geli sendiri membaca doa yang terasa konyol itu. Tawa itu seolah membuatnya seperti punya dunia sendiri yang tak tersentuh oleh sekitarnya.
Ia kembali melipat kertas itu dan menyelipkannya ke paper bag, lalu melangkah dengan sisa senyum yang menggantung.
Tapi sejenak langkahnya tertahan melihat tatapan mata penuh waspada orang-orang di sekitar ke dirinya.
Sementara Izack yang berjalan di belakangnya –menuju pintu, melirik curiga pada mereka yang langsung terdiam, meskipun baru berapa menit yang lalu mereka heboh menyambutnya.
Semakin Chika dekat ke pintu, tatapan teman-teman Chika mendadak aneh --seolah memberi isyarat halus: jangan ke situ.
Tapi Chika makin bingung. Apalagi ia sadar, Izack berjalan tepat di belakangnya.
Izack pun menangkap gelagat aneh itu, tapi belum sempat mencerna, Chika sudah mendorong pintu yang sedikit terbuka.
Dan...
"Byurr...!!"
Dua ember air tumpah dari atas.
Spontan Izack meloncat ke samping.
Chika terdiam di ambang pintu... mirip kucing kururs nyemplung ke got.
"Ah... kamu, Chik."
"Ampun, Chika."
"Maaf, Chika..."
"Nah, loh! Siapa tadi yang pasang air, tanggung jawab ke Chika tuh."
Spontan semua riuh saling tuding.
Izack yang selamat, hanya terkekeh.
"Itu namanya senjata makan tuan."
Chika merosotkan bahu, melirik blackforest di tangannya remuk bercampur air. Izack baru ingin mendekat Chika, tapi tiba-tiba dua orang temannya muncul membawa tepung.
Dan...
Bughh!!
Spontan Izack terbatuk oleh hamburan tepung.
"Ahh!! Sialan!"
Belum sempat menghalau butiran tepung, dari arah belakang, telor-telor itu dilempar ke tubuhnya.
Pokkk!!
Chika yang sudah masuk ruangan, spontan menoleh, terpaku. Tubuh Izack sudah tak berupa. Tatapan mereka saling bertemu sekilas. Ada senyum yang jelas ia tawarkan pada gadis itu sebelum menunduk, mengambil sebungkus sisa tepung yang di bawahnya, lalu melempar balik ke arah Hayes dan Leo, yang menjadikan mereka semua lari berhamburan.
Suasana Basecamp yang awalnya tenang dan bersih, kini langsung berubah jadi medan perang kecil yang penuh tawa dan teriakan dengan tepung berhamburan ke udara serta telur yang berceceran di lantai.
Cepat-cepat Chika menghindari kegaduhan, dan masuk ke dalam salah satu ruangan. Ia segera membuka tas laptop dan memastikan tidak terkena cipratan air sedikitpun.
"Aahhhh... Syukurlah!!" serunya lega.
Ia tak peduli dengan bajunya yang telah basah kuyup. Lirikannya pasrah pada kue blackforestnya yang hancur berantakan di atas meja kecil.
Gadis itu menghela nafas kesal. "Baru dapat blackforest sekali aja begini," senyumnya getir mengusap wajah, lalu membersihkan sisa-sisa kue dari kotoran.
Tiba-tiba seseorang masuk. Ia masih berdiri di ambang pintu. "Mau kamu makan, Chik?" tanyanya heran.
Mendengar itu, seketika Izack angkat tangan dari kejaran juniornya dan memilih masuk. Ia ikut melongok Chika yang ada di dalam.
Entah bagaimana kacaunya di luar, suasana benar-benar gaduh.
Tak lama kemudian Hendrik muncul di belakang Izack. Ia hanya menepuk lengan sahabatnya dan berbisik pendek.
"Ya, aku sudah tahu," jawab Izack, matanya tak lepas dari sosok Chika.
Tanpa ragu Izack mendorong pintu hingga terbuka lebar. Ada sedikit ketegangan di wajahnya saat melihat Chika yang kuyup, sibuk mengecek laptop ketimbang dirinya sendiri.
"Gimana dengan laptopmu?"
Chika diam. Ia bingung, antara memilih kesal atau grogi.
"Oh??" jawabnya sekilas, lalu kembali diam sibuk membersihkan cipratan air.
"Bukumu basah semua?"
"Hm, Ya."
"Semoga saja nggak dimarahi petugas perpustakaan," jawabnya singkat.
"Oh, itu buku milik Perpus?"
"Iya," jawabnya singkat. Ia malas menjawab pertanyaan yang dirasa terlalu klise.
Hening. Chika tak peduli dengan keberadaan Izack di sampingnya.
"Terus bajumu?"
Chika menghela nafas pelan, tenang. Ia malas jawab pertanyaan yang sebenarnya tak tak perlu jawaban.
Tanpa kata-kata, Chika menumpuk buku-bukunya dan membawanya keluar begitu saja meninggalkan Izack. Dan entah mengapa, Izack hanya mengikutinya.
Sisi lain sebenarnya ia merasa bersalah sekaligus bertanggung jawab, karena hanya gara-gara dirinya, perempuan itu kena imbasnya.
Setelah menjejer buku-bukunya di pagar teras Basecamp, Chika berdiri di sudut. Membiarkan terkena pantulan sinar matahari sore yang tidak begitu terang.
"Bawa baju ganti nggak?" tanya Izack.
Chika menggelang tanpa menoleh, ia merasa risih karena terus diperhatikan. Sesekali mengibas-ngibaskan bukunya, berharap angin bisa membantunya kering lebih cepat.
"Terus?" tanya Izack lagi.
Saking kesalnya, kini tatapan Chika diam menusuk seakan ingin menyumbat mulutnya. Tapi Izack tak peduli.
"Mau aku pinjami baju kakakku?"
Tiba-tiba suara lain menyela "Iya Chik, mana udaranya dingin begini."
Suara lain menimpali "Iya Bang, kasihan lho."
Izack menghela nafas, lalu melirik ke arah teman-temannya. "Ini harusnya kalian yang tanggung jawab, kan?" ucapnya datar.
Spontan, mereka saling tunjuk melepas tanggung jawab.
Kekacauan kecil itu justru membuat Izack tersenyum tipis –yang tak luput dari pandangan Chika. Dan diam-diam, gadis itu mencuri pandang kepergian lelaki yang sudah tak berupa bajunya.
Tapi entah mengapa wajah tampannya seolah masih mengikat, membuat dadanya berdegup, mengalir hangat. Antara kagum, simpati atau...
Entah...
Lelaki yang semula ia kira terlalu elit dan angkuh itu, ternyata justru hangat.
Sesaat semua sibuk membersihkan lantai. Sisa-sisa lemparan tepung dan telur membuat ruangan berbau amis dan lengket. Tapi tak ada yang mengeluh. Justru gelak tawa kembali pecah di sela-sela itu.