Minggu, 18 Januari 2026

Bab 5. Sapaan dalam Guyuran

 Sore itu suasana cukup hening. Matahari bersinar hangat mulai turun. Sinar keemasannya memantul mengenai aspal yang gelap.

Hanya ada anak-anak yang melintas bersepeda.

Tak berapa lama kemudian Chika dan Rendra melintas di belakang Izack yang tengah asyik ngobrol dengan lelaki tua itu.

Chika tahu, bapak itu adalah dosen ilmu Hukum di kampusnya, yang konon katanya juga mantan ketua AMN cabang Tayoga yang ke empat. Dan sekarang, beliau sering mengisi kajian rutin di AMN seputar hukum.

Izack sempat menoleh –hanya sekilas—lalu kembali berbincang, seolah tak pernah mengenal Chika.

"Teman-teman AMN Tayoga berencana mengusung wacana pembentukan ruang para Akademisi sebagai penuntun kebijakan pemerintah, nih. Prof..."

"Oh, ya?! Bagus itu. Gimana mekanisme kerjanya?"

"Makanya datang ke Kongres, lah. Prof..."

"Kapan sih?"

"Kurang lebih satu setengah sampai dua bulan lagi, lah."

"Coba deh, nanti. Saya lihat jadwal dulu."

"Masih ngajar kuliah di kampus seberang, Prof?"

"Masih,"

Chika dan Rendra yang cukup jauh dari mereka, saling melirik.

Rendra berpaling "Kenal, kamu?"

"Cuman tahu aja."

"Siapa sih, aku Ren..."

"Anggota divisi jurnalis yang nggak pernah datang, gara-gara waktu habis buat kerja."

"Mereka, masih bisa nongkrong sambil makan-makan."

"Aku??"

Keduanya menarik nafas bersamaan, lalu saling melirik dan tertawa. Seolah sedang menikmati kepahitan diri mereka.

Hening.

Seperti teringat sesuatu, Chika kembali berpaling ke Rendra.

"Oh ya, mana? Katanya mau kamu pinjami laptop barumu?" tanyanya.

Langkah mereka sempat terhenti saat mendekati Basecamp AMN.

Tanpa banyak bicara, Rendra mengeluarkan sebuah laptop yang dibungkus sarung busa hitam. Chika segera mengambilnya dan memasukkan ke dalam tas punggungnya. Spontan, ia melirik Rendra.

"Oh, iya. Terus, tugasmu gimana?"

"Tenang... masih ada komputer kantor."

"Oh..."

Begitu laptop masuk tas, Rendra menyerahkan paper bag mika kecil.

"Apa ini?" tanya Chika bingung.

Ia mengangkat paper bag tersebut, memperhatikan mini black forest yang tampak dari sebagian sisi mika.

"Bom," jawab Rendra cepat.

Spontan Chika tertawa lebar. Tapi sesaat ia tetap melirik curiga.

"Jangan bilang kamu naksir cewek, terus ditolak. Lalu cokelat ini akhirnya kamu buang ke aku."

"Ampunnn..." sambung Rendra santai.

Spontan Chika terkekeh.

"Biasanya kan begitu," ucapnya nyolot.

Rendra yang kembali berjalan di depannya tiba-tiba terhenti, menatap lama mata Chika yang polos. "Nggak ingat? Sama tanggal lahirmu sendiri?"

Kalimat itu terdengar Izack yang baru saja melewati mereka. Mereka melangkah lebih dulu, membuka pintu pagar besi yang tingginya hanya se-perut.

"Seumur-umur baru kali ini, ada orang kasih kado di hari ulang tahunku," ucap Chika nyengir, terdengar getir, matanya berbinar tertuju pada bingkisan kecil.

"Serius?!!" mata Rendra melotot tak percaya.

"Ya ampun, Nak... kasihan amat," tambahnya, mencoba mengelus ubun-ubun Chika.

Tapi tangan gadis itu bergerak cepat, menangkis tangan lelaki –yang poninya selalu menutupi wajah tampannya— sebelum sempat mendarat ke kepala.

Dengan sekali gerakan, Chika berhasil melintir tangannya ke belakang.

"A a a Akh! Sakit! Sakit!!" teriak Rendra.

Izack yang tengah menutup pintu gerbang, ekspresinya campuran antara ngeri dan geli.

Tapi Chika tetap tak bergeming. Tangannya mencengkeram kuat.

"Lepas, lepas!!" teriak Rendra kesakitan.

"Sudah aku bilang, kan... jangan suka colek-colek," kata Chika dengan nada pelan tapi tegas.

"Kamu sendiri sentuh tanganku, kan?"

Seperti baru sadar, Chika langsung melepas tangannya.

Izack membalikkan badan sambil tersenyum geli, lalu kembali melangkah. Sementara dua orang lelaki di sebelahnya tampak mengumpat tak suka. Tapi Izack tak peduli dengan kata-kata itu.

Terlihat jelas –di balik canda dan pukulan ringan itu, hubungan mereka sudah lama terjalin. Tapi tak lebih dari kata teman.

Chika menoleh ke arah Rendra yang masih mengusap lengannya.

"Besok kau ulang lagi, aku tendang kemaluanmu tuh!"

"Hoogh!! Ampun! Bukannya ucapan terimakasih, malah bikin sakit semua badan," gerutu Rendra kembali melangkah.

Langkah Chika terhenti, pundaknya turun melepaskan tawa. "Haha... ya maaf," ucapnya pelan.

Dari teras depan basecamp, terdengar sorakan kecil.

"Pak Ketua datang!" seru salah satu junior yang tengah duduk-duduk santai.

Izack mengangkat tangan, melambai sambil tersenyum lebar.

"Halo Zack!!" sambut dua orang senior.

Lelaki itu langsung menghampiri untuk berjabat tangan.

Glekk...

Langkah Chika spontan terhenti.

"Ketua?" bisik Chika nyaris tak terdengar.

Langkah Rendra ikut berhenti. "Siapa orang itu?"

"Ketua Umum AMN pusat, mungkin," jawab Chika pelan. "Heni nge fans banget sama dia, sampai aku muak dengar ceritanya."

"Ooh... wajar lah. Elegan, tenang, kharismatik juga," gumam Rendra menatap jauh.

Ada rasa hangat yang diam-diam menyelinap, tapi Chika berusaha menyangkal itu.

"Biasa aja, makannya juga nasi sama lauk seperti kita."

Tanpa sadar, Rendra kembali meletakkan tangannya di pundak Chika yang lebih pendek.

"Jangan bohong... aku tahu kamu sempat grogi, tadi."

"Kasihan amat kau, Nak... mimpimu terlalu tinggi," ujarnya sok bijak.

Refleks, Chika mencapit tangan itu turun.

"Berapa kali aku ingatkan kamu, hah?!"

"Hwkwk... sory, sengaja. Soalnya dari tadi kamu memperhatikan cowok itu terus."

"Padahal sudah ada cowok di sebelahmu,"

Spontan Chika menoleh, tatapannya tajam. "Memangnya kamu cowok?"

Rendra melotot, tapi Chika justru menertawakannya.

"Di mataku, kau ini sama jenis seperti aku."

Rendra menghela nafas, pasrah.

Chika mengangkat dagunya, "Lagian... sebel banget aku dikasihani. Berasa orang kere beneran."

Spontan Rendra terkekeh-kekeh, menertawakannya tanpa ampun.

"Emangnya kamu kaya?!!" ledek lelaki gondrong itu, dengan ekspresi dramatis.

"Iyalah!" jawab Chika tak mau kalah. Ia membusungkan dada. "Kaya hati, kaya pikiran..."

Rendra menyipitkan mata. "Kaya wajah... enggak?!"

Spontan Chika tertawa terkekeh.

Izack yang melihatnya sekilas, hanya terdiam. Sorot matanya jelas tidak suka dengan senda gurau mereka.

Chika kembali berceloteh. "Aku mah sadar diri, wajah pas-pasan," ujarnya. Ia mengibas rambut panjangnya sok percaya diri. "Tapi inner beauty-ku aja yang nggak bisa bohong."

"Hahaha... Dasar narsis!"

"Iya kan? Mana ada cewek sepertiku yang tanpa usaha, dapat banyak sambutan hati lelaki."

Rendra mencibir sewot.

"Tetep aja masih jomblo,"

"Karena standarku tinggi, bos!"

"Halah! Banyak omong."

Chika kembali tertawa renyah sambil mengeratkan tas punggungnya.

"Oke, terimakasih lah pokoknya!" serunya sambil melambaikan tangan.

Rendra melanjutkan langkah sambil memijit bahunya yang masih terasa ngilu.

Chika sempat memandangi punggungnya. Ada sedikit rasa bersalah karena ia terlalu keras, tadi.

Apapun itu, harusnya Rendra sadar sejak dulu –ia tak suka disentuh. Apalagi dia lelaki. Bukan karena trauma masa lalu, ia hanya risih.

Rendra adalah satu-satunya orang yang selalu hadir saat ia membutuhkan pertolongan apapun, di kota ini. Bahkan sudah seperti saudara sendiri. Tanpanya, mungkin ia tak akan punya nyali datang ke kota sebesar ini untuk melanjutkan kuliah. Apalagi di jurusan terbaik di kampus itu.

Bekal modal utama adalah menggadaikan sertifikat rumah orang tuanya ke Bank. Dan itu, tanpa sepengetahuan keluarga paman, apalagi Rendra.

Itulah mengapa, hari-harinya sering diiringi dengan ketegangan menetapkan batasan diri, agar tak goyah dari godaan apapun. Meskipun banyak orang mengira dirinya pacaran dengan Rendra, karena seringnya jalan berdua kemana-mana. Termasuk teman-teman Basecamp.

Waktu awal semester, keduanya sering berjalan berdua menuju Basecamp. Karena Rumah Singgah tempat Rendra bekerja, memang tak jauh dari sana. Mereka sering bertemu di sana sekedar untuk pinjam uang, kamera atau barang lainnya.

Suasana masih riuh ketika Chika melangkah pelan, menyusup di antara kerumunan di teras. Obrolan seru bercampur tawa memenuhi udara, sementara Izack hanya menanggapi sesekali –menjawab sapaan teman-teman seangkatan Chika, termasuk Heni, teman kostnya.

Namun Chika justru terus melangkah pelan sambil mengambil potongan kertas di dalam blackforest. Seolah ada jarak di antara dirinya dan dunia sekitar.

Ia membuka lipatan kertas kecil dalam paper bag, lalu membacanya sambil tersenyum samar.

Buatmu yang nggak pernah makan blackforest,

Selamat ulang tahun.

Nikmati cokelat sesekali dalam hidupmu, sebagai tanda bahwa perjalananmu tidak akan pahit selamanya.

Aku juga berdoa; semoga segera dipertemukan cowok mapan, tampan dan berkepribadian tinggi seperti impianmu.

Rumah pribadi, mobil pribadi, pekerjaan pribadi alias CEO.

Spontan Chika terkekeh geli sendiri membaca doa yang terasa konyol itu. Tawa itu seolah membuatnya seperti punya dunia sendiri yang tak tersentuh oleh sekitarnya.

Ia kembali melipat kertas itu dan menyelipkannya ke paper bag, lalu melangkah dengan sisa senyum yang menggantung.

Tapi sejenak langkahnya tertahan melihat tatapan mata penuh waspada orang-orang di sekitar ke dirinya.

Sementara Izack yang berjalan di belakangnya –menuju pintu, melirik curiga pada mereka yang langsung terdiam, meskipun baru berapa menit yang lalu mereka heboh menyambutnya.

Semakin Chika dekat ke pintu, tatapan teman-teman Chika mendadak aneh --seolah memberi isyarat halus: jangan ke situ.

Tapi Chika makin bingung. Apalagi ia sadar, Izack berjalan tepat di belakangnya.

Izack pun menangkap gelagat aneh itu, tapi belum sempat mencerna, Chika sudah mendorong pintu yang sedikit terbuka.

Dan...

"Byurr...!!"

Dua ember air tumpah dari atas.

Spontan Izack meloncat ke samping.

Chika terdiam di ambang pintu... mirip kucing kururs nyemplung ke got.

"Ah... kamu, Chik."

"Ampun, Chika."

"Maaf, Chika..."

"Nah, loh! Siapa tadi yang pasang air, tanggung jawab ke Chika tuh."

Spontan semua riuh saling tuding.

Izack yang selamat, hanya terkekeh.

"Itu namanya senjata makan tuan."

Chika merosotkan bahu, melirik blackforest di tangannya remuk bercampur air. Izack baru ingin mendekat Chika, tapi tiba-tiba dua orang temannya muncul membawa tepung.

Dan...

Bughh!!

Spontan Izack terbatuk oleh hamburan tepung.

"Ahh!! Sialan!"

Belum sempat menghalau butiran tepung, dari arah belakang, telor-telor itu dilempar ke tubuhnya.

Pokkk!!

Chika yang sudah masuk ruangan, spontan menoleh, terpaku. Tubuh Izack sudah tak berupa. Tatapan mereka saling bertemu sekilas. Ada senyum yang jelas ia tawarkan pada gadis itu sebelum menunduk, mengambil sebungkus sisa tepung yang di bawahnya, lalu melempar balik ke arah Hayes dan Leo, yang menjadikan mereka semua lari berhamburan.

Suasana Basecamp yang awalnya tenang dan bersih, kini langsung berubah jadi medan perang kecil yang penuh tawa dan teriakan dengan tepung berhamburan ke udara serta telur yang berceceran di lantai.

Cepat-cepat Chika menghindari kegaduhan, dan masuk ke dalam salah satu ruangan. Ia segera membuka tas laptop dan memastikan tidak terkena cipratan air sedikitpun.

"Aahhhh... Syukurlah!!" serunya lega.

Ia tak peduli dengan bajunya yang telah basah kuyup. Lirikannya pasrah pada kue blackforestnya yang hancur berantakan di atas meja kecil.

Gadis itu menghela nafas kesal. "Baru dapat blackforest sekali aja begini," senyumnya getir mengusap wajah, lalu membersihkan sisa-sisa kue dari kotoran.

Tiba-tiba seseorang masuk. Ia masih berdiri di ambang pintu. "Mau kamu makan, Chik?" tanyanya heran.

Mendengar itu, seketika Izack angkat tangan dari kejaran juniornya dan memilih masuk. Ia ikut melongok Chika yang ada di dalam.

Entah bagaimana kacaunya di luar, suasana benar-benar gaduh.

Tak lama kemudian Hendrik muncul di belakang Izack. Ia hanya menepuk lengan sahabatnya dan berbisik pendek.

"Ya, aku sudah tahu," jawab Izack, matanya tak lepas dari sosok Chika.

Tanpa ragu Izack mendorong pintu hingga terbuka lebar. Ada sedikit ketegangan di wajahnya saat melihat Chika yang kuyup, sibuk mengecek laptop ketimbang dirinya sendiri.

"Gimana dengan laptopmu?"

Chika diam. Ia bingung, antara memilih kesal atau grogi.

"Oh??" jawabnya sekilas, lalu kembali diam sibuk membersihkan cipratan air.

"Bukumu basah semua?"

"Hm, Ya."

"Semoga saja nggak dimarahi petugas perpustakaan," jawabnya singkat.

"Oh, itu buku milik Perpus?"

"Iya," jawabnya singkat. Ia malas menjawab pertanyaan yang dirasa terlalu klise.

Hening. Chika tak peduli dengan keberadaan Izack di sampingnya.

"Terus bajumu?"

Chika menghela nafas pelan, tenang. Ia malas jawab pertanyaan yang sebenarnya tak tak perlu jawaban.

Tanpa kata-kata, Chika menumpuk buku-bukunya dan membawanya keluar begitu saja meninggalkan Izack. Dan entah mengapa, Izack hanya mengikutinya.

Sisi lain sebenarnya ia merasa bersalah sekaligus bertanggung jawab, karena hanya gara-gara dirinya, perempuan itu kena imbasnya.

Setelah menjejer buku-bukunya di pagar teras Basecamp, Chika berdiri di sudut. Membiarkan terkena pantulan sinar matahari sore yang tidak begitu terang.

"Bawa baju ganti nggak?" tanya Izack.

Chika menggelang tanpa menoleh, ia merasa risih karena terus diperhatikan. Sesekali mengibas-ngibaskan bukunya, berharap angin bisa membantunya kering lebih cepat.

"Terus?" tanya Izack lagi.

Saking kesalnya, kini tatapan Chika diam menusuk seakan ingin menyumbat mulutnya. Tapi Izack tak peduli.

"Mau aku pinjami baju kakakku?"

Tiba-tiba suara lain menyela "Iya Chik, mana udaranya dingin begini."

Suara lain menimpali "Iya Bang, kasihan lho."

Izack menghela nafas, lalu melirik ke arah teman-temannya. "Ini harusnya kalian yang tanggung jawab, kan?" ucapnya datar.

Spontan, mereka saling tunjuk melepas tanggung jawab.

Kekacauan kecil itu justru membuat Izack tersenyum tipis –yang tak luput dari pandangan Chika. Dan diam-diam, gadis itu mencuri pandang kepergian lelaki yang sudah tak berupa bajunya. 

Tapi entah mengapa wajah tampannya seolah masih mengikat, membuat dadanya berdegup, mengalir hangat. Antara kagum, simpati atau... 

Entah... 

Lelaki yang semula ia kira terlalu elit dan angkuh itu, ternyata justru hangat.

Sesaat semua sibuk membersihkan lantai. Sisa-sisa lemparan tepung dan telur membuat ruangan berbau amis dan lengket. Tapi tak ada yang mengeluh. Justru gelak tawa kembali pecah di sela-sela itu.  


Bab 4. Pertemuan dalam Diam

 

Udara sore itu terasa aneh. Matahari masih menyengat kulit, tapi angin berhembus justru terasa sangat menusuk dingin. Pepohonan Dedalu menjuntai rimbun di sepanjang jalanan masuk kawasan pemukiman elite.

Seorang gadis --dengan rambut dikucir sebahu-- melangkah santai di sisi trotoar. Ia mengenakan hem biru kotak-kotak yang tampak lusuh tapi rapi. Sepanjang jalanan itu terasa luas dan sepi. Hanya suara desir angin yang sesekali menghempas, dan gesekan daun yang sesekali jatuh di aspal menemani memecah keheningan.

Rumah-rumah megah dengan pagar tinggi berdiri angkuh, seakan menciptakan jarak yang begitu rendah dengan siapapun yang melintas jalanan di depannya. Apalagi pejalan kaki.

Sepi.

Gadis itu terus saja berjalan, meski sesekali menoleh gelisah --rasa waspada akan kejahatan yang mengintai.

Ia menarik nafas berat. Sesekali menggosok-gosokkan dua telapak tangan menghalau dingin, sesekali menghitung dengan jari kurusnya, dengan mata menerawang jauh. Seolah menghitung setiap detil yang ada di kepalanya tanpa boleh terlewat sedikitpun.

Dari seberang jalan yang lengang, suara engsel pintu besi berderit memecah keheningan. Pintu pagar kayu tinggi bercat cokelat klasik itu terbuka perlahan. Seorang lelaki melangkah keluar dari dalam, membuat fokus pikirannya pun pecah seketika dan menoleh.

Lelaki itu tinggi, putih sedikit pucat, rambutnya tersisir rapi dengan topi sedikit menenggelamkan wajahnya yang tampan.

Saat itu kedua mata saling menatap dari jauh, seakan menghentikan gerak langkah keduanya. Hanya dalam sekian detik, membuat si gadis spontan salah tingkah.

Awalnya gadis itu berjalan tenang, namun kini mendadak kikuk.

Tiba-tiba saja dua orang lelaki dari kejauhan memanggil-manggil lelaki tersebut.

"Izack!"

Tatapan pun terputus begitu saja. Dan gadis itu pun melangkah cuek, seolah tak terjadi apa-apa.

"Kapan datang?" seru salah satu dari mereka menepuk pundak.

Mereka tampak akrab.

Gadis itu kembali menoleh, sekedar memastikan wajah dua lelaki yang tak asing. Tapi lelaki tampan itu justru menatap gadis itu lagi seolah ingin memastikan sesuatu.

Saat kembali berjalan, si gadis kembali tersenyum. Senyum itu samar, namun terasa getir. Membayangkan betapa jauh status sosial antara dirinya dengan ketiga lelaki itu.

Sambil kembali melangkah, si gadis menekan rasa nyeri yang makin menusuk.

"Oh, anak orang kaya... mujur benar hidupmu. Sudahlah kaya, ganteng, terhormat pula," gumamnya lirih.

"Lha aku?"

"Sudahlah jelek, bodoh, miskin lagi," ujarnya garuk-garuk kepala, tersenyum pahit.

Saat kontur jalanan menanjak, ia mulai menahan nafas sedikit terasa berat di kaki. Sementara membiarkan rasa lapar itu menjepit perutnya sejak pagi tadi.

"Kalau bukan demi naskah buku itu, malas banget aku kemari. Habiskan tenaga percuma. Mending kerja di warung bisa dapat makan siang," pikirnya.

Tatapannya menembus ruang kosong, menatap jalanan yang masih terasa jauh di ujung mata.

Basecamp AMN itu ada di kawasan perumahan Elite dosen kampus negeri di kota Tayoga. Konon katanya, Basecamp itu rumah milik salah satu founding universitas negeri yang keluarganya sudah sukses semua dan ditinggalkan.

Gadis itu lagi-lagi hanya tersenyum pahit, sekedar membayangkan itu.

Tapi sesaat langkahnya terhenti,

"Akhhh..." keluhnya, nyengir menjepit perut.

Langkah yang berat dan perut yang melilit perlahan terkalahkan oleh pikirannya pada naskah buku miliknya. Kabarnya naskah itu telah dikirim ke ibu kota Takata, dari penerbit seniornya di AMN, Bang Awan.

Bahkan sejenak lupa pada lelaki yang melintas di seberang jalan. Mereka terdengar seru berbincang-bincang.

Sayup-sayup suara itu terdengar:

"Dari ketiga anaknya Jendral Arsyad, hanya kamu yang mau repot-repot terjun ke dunia politik mahasiswa yang nggak ada untungnya, Zack."

Lelaki di sebelahnya mengangguk cepat, "Hm, kalau aku jadi kamu, mending serius di bisnis. Atau lanjut kuliah luar negeri seperti dua orang kakakmu, Bro," kata mereka.

Suara mereka sebenarnya tak begitu keras, tapi karena suasana terlalu sepi, suara itu terdengar jelas. Membuat mata Chika pun terbelalak.

"Jendral Arsyad?!"

Ia penasaran, seperti apa sosok anaknya Jendral yang namanya digadang-gadang sebagai garda depan keamanan negara, di saat memanas hubungan luar negeri terkait isu pencaplokan kepulauan terdepan dan terluar di perairan negara Minensa.

Chika menoleh, memastikan siapa lelaki yang dimaksud.

Tanpa disengaja, keduanya saling menatap sejenak, hingga Chika pun kembali meneruskan langkah.

Baru berapa lama melangkah, suara berat terdengar dari belakang.

"Hei, Luchika!"

Suara itu seperti memecah keheningan, dan langkahnya pun langsung terhenti.

Degg...

Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.

"Suara siapa itu?" pikir Chika gugup campur grogi.

"Rendra?"

"Bukan," pikirnya. Ia sangat berharap, bahwa yang memanggil namanya adalah di antara ketiga lelaki itu.

Dengan nafas menggantung, Chika menoleh cepat --mencari sumber suara, berharap lelaki tampan itu yang memanggilnya.

Tanpa sadar bibirnya tersenyum geli dengan perasaan dan pikirannya yang teraduk-aduk.

Tapi belum sempat ia menoleh, tangannya yang menggamit dua buku tebal, lemah seketika.

"BRAKKK!!!" buku-buku itu terlempar jatuh.

Spontan rautnya merah padam.

Malu banget.

Rambutnya yang terikat kucir hingga sepunggung, langsung ia lepas. Membiarkannya tergerai.

Itu adalah strategi dari dulu, demi menutupi rasa malu yang berantakan.

Tapi belum sempat meraih buku yang pertama, sepasang sepatu lelaki sudah lebih dulu berdiri di hadapannya.

Jantungnya berdecak halus serasa ada yang melayang --entah canggung, gugup, atau mungkin harapan kecil.

Tapi begitu mendongak...

"Hwkwk!" wajah lelaki yang sudah akrab itu terkekeh, menertawakan tanpa belas kasihan saat tahu ketiga lelaki itu berjalan beberapa langkah di belakang mereka.

Tangannya menyaut cepat dua buku itu. Ia mendengus kesal.

"Hih!! Nyebeli banget kamu."

Tanpa babibu, Chika langsung berdiri, mengayunkan dua buku yang terasa berat di tangan, lalu memukul keras punggungnya.

"Bughh!"

"Aduh!"

"Sakit tahu!" protes Rendra nyengir sedikit terdorong.

Chika tertawa menang menanampakkan giginya yang kecil dan bersih.

Renda menahan tawa sambil mengusap punggungnya.

"Ampun... cowok apa cewek, sih kamu?!"

Izack yang berjalan di belakang mereka cuma tersenyum geli.

Tak banyak kata.

Tapi tatapannya cukup kuat membuat dua orang temannya berbisik.

"Anak buahnya Leo."

"Siapa?"

"Cewek itu."

"Oh..."

Izack tak berkomentar, hanya tersenyum samar. Ia teringat kata-kata Hendrik kemarin malam, membayangkan bagaimana sikap tomboynya gadis itu.

Tapi... benarkah yang dimaksud adalah Luchika yang ini?

Atau ada nama Luchika yang lain.

Atau... bahkan setiap gadis yang namanya Luchika, pasti cantik, seperti gadis di depannya ini.

Pikiran Izack masih berputar-putar sendiri.

Chika sengaja memalingkan wajah ke kiri, membiarkan rambutnya tergerai menutupi sebagian wajahnya, saat ketiga lelaki itu berjalan melintas lebih dulu.

Hingga akhirnya ia menarik nafas lega, saat mereka berjalan di depannya lebih cepat.

Spontan matanya melirik Rendra kesal.

"Dasar! Sontoloyo," gerutunya lirih.

Spontan Rendra tertawa cekakaan.

Dua buku ditangannya kembali mendarat ke punggungnya.

"Buggh!!"

"Diem kau!" pelototnya. Ia khawatir mereka mendengarnya.

Tak henti-hentinya Rendra tertawa cekakaan geli, menahan perut, melihat gadis di sebelahnya beraut merah padam menahan malu.

"Ampun Chika! baru berapa detik jalan bareng kamu, badanku sudah sakit semua," pekik Rendra kesakitan.

Izack yang sudah lebih dulu berjalan di depannya hanya menoleh sekilas. Tatapannya datar dan tajam, sekilas tatapan Izack dan Rendra saling bertemu.

Rendra tahu, lirikan sekilas mata lelaki itu tertuju pada gadis yang berjalan di sampingnya.

Lelaki itu berlalu begitu saja, melanjutkan obrolan dengan dua orang di sebelahnya.

"Kenapa? Cakep ya?" lirih Rendra.

Chika cuma nyengir menarik nafas sekilas.

"Ah! diluar jangkauan itu mah..." katanya kembali melangkah santai.

Sepanjang jalanan yang menurun, keduanya tetap ngobrol seru hingga langkah pun perlahan melambat.

Di depan, sebuah rumah dengan gerbang tinggi dan tembok batu alam, --seorang lelaki paruh baya berwajah bersih dan berperawakan tenang, tampak sedang berbincang dengan seseorang di depan pintu.

"Halo Bang," sapa lelaki tampan terdengar akrab.

Lelaki itu menoleh, spontan matanya membesar.

"Hei?! Izack..." serunya, lalu keduanya saling memeluk.

"Gimana kabarnya?"

"Tambah keren aja kamu, sejak jadi Ketua Umum?" balas lelaki itu menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Izack tertawa kecil, matanya menyipit bening. "Amiin, Bang,"

Ia mengeluarkan selembar amplop putih dengan kop AMN dari tas kecilnya.

"Besok hadir di Kongres Alumni, kan. Bang?"

"Insyaallah..."

"Ini apa?" tanyanya menatap amplop.

Izack tersenyum lebar. "Proposal, Bang."

Lelaki itu hanya mengangguk pelan, ekspresinya datar.

"Hehe... masa kita semangatnya sampai ubun-ubun, tapi abang-abangnya nggak mendukung. Kalau nggak cair, malu dong sama adik-adiknya, Bang,"

Bahasa itu terdengar diplomatis, namun terdengar skak.

Itulah bahasa seorang Izack saat menghadapi seniornya yang berduit.

belum ia ketahui pasti.

Bab 3 Jejak yang Samar di Balik Naskah

 


Gedung AMN Pusat

Menjelang pukul satu dini hari, ruang rapat mulai terasa lebih senyap dari biasanya. Bukan karena semua masalah telah selesai, tapi karena tenaganya mulai tipis.

Nafas peserta terdengar berat, mata mereka mulai sembab dan sayu. Sesekali terdengar helaan nafas panjang yang tak lagi disembunyikan.

Izack, yang sejak tadi menjadi pusat rapat, mulai bersandar di kursinya. Tangan kanannya sesekali mengusap tengkuknya yang lelah. Matanya menatap kosong ke papan tulis digital yang menampilkan daftar nama panitia inti dan panitia lapangan yang diambil dari cabang AMN kota Madoga, kepulauan Siwalu.

"Baik," kata Izack, memecah keheningan.

"Masih ada yang belum kita sentuh?"

"Itu saja sih Bang," jawab mereka menatap lelah ke arah Izack.

"Oke. Kalau begitu, kita kunci dulu semua keputusan malam ini. Nanti detail teknisnya diselesaikan masing-masing divisi. Kita ketemu lagi minggu depan, hari jumat malam sabtu."

Izack menoleh ke kanan, memastikan notulen yang mencatat secara otomatis sudah selesai merangkum hasil rapat.

"Terima kasih, semua," ucap Izack akhirnya. "Hati-hati di jalan."

Begitu kalimat itu meluncur, terdengar helaan nafas lega. Beberapa orang mengangguk lemah. Satu-dua orang segera memasukkan laptop ke dalam tas. Pendingin ruangan pun mulai dihentikan.

***

Malam kian pekat, saat mereka meninggalkan markas AMN.

Hanya tersisa Izack dan dua orang dengan jaket semi formalnya yang baru saja melangkah keluar. Mereka menuruni tangga sambil bercanda.

"Makanya... apa perlu aku carikan pacar buatmu?" Ucap Dido, ketua harian AMN Pusat.

Izack mencibir. "Segitu amat!"

"Stok dia terlalu banyak, Bro. Dia aja yang susah." Kata Rury, lelaki berkaca mata tebal, sekretaris AMN Pusat.

Izack tersenyum manis setengah geli melengoskan wajah, "Kau kira apaan, stok."

"Kongres besok tuh... ajang cari jodoh, jangan ngurusi negara doang."

Izack hanya tersenyum samar, "Jodoh kok dicari."

Lelaki berkaca mata tebal itu kembali mendekat Izack, saat Dodi pergi meninggalkan jejak suara motor listriknya.

"Jangan dianggap omongan dia, Zack. Mulutnya emang begitu sejak dari jaman S1," katanya.

"Yuk! Duluan," lanjut Rury. Ia menyalakan mesin motor dan pergi.

Izack kini berdiri sendiri, memandang gedung empat lantai bercat biru laut dan putih di depannya. Bangunan kokoh itu menjulang dalam gelap, menyimpan jejak perjuangan mahasiswa di tengah kondisi negara yang makin tak menentu.

Dulu, ia sempat merasa gamang saat pertama kali melangkah ke gedung itu -simbol kebanggaan anak-anak AMN dari seluruh penjuru tanah air. Namun dalam satu tahun terakhir, ia berhasil membawa nama AMN melampaui batas negara.

Dan kini, keanggotaannya tembus ke tujuh negara, yang dianggap strategis.

Prestasi lain yang tak kalah membanggakan bagi dirinya adalah ketika ia berhasil membuat tim IT yang lebih serius dan profesional, demi menjaga keamanan data anggota dari seluruh cabang AMN, termasuk agenda rapat beserta wacana yang mereka usung di tiap daerah.

Kini, udara sedikit terasa berat dan lengket oleh kondisi udara kota metropolitan yang makin kurang bersahabat.

Ozin telah berdiri di depan mobil, siap membukakan pintu. Izack masuk ke dalam mobil sambil memejamkan matanya yang lelah. Ia melirik sekilas ketika Ozin menutupkan pintu, lalu melepaskan nafas panjang berusaha meluruhkan ketegangan otot dan urat syarafnya yang terasa kaku.

Tapi sesaat matanya berkeliling mencari sesuatu.

"Dimana naskah itu?" tanyanya tiba-tiba, membuat Ozin -sopir sekaligus asistennya- menoleh sekilas dari kursi depan.

"Naskah apa, Bang?" tanya Ozin, heran namun tetap sigap memegang setir.

"Oh... aku letakkan di tumpukan itu, Bang" Jawab Ozin buru-buru menjelaskan begitu menyadari maksud bosnya.

Tangannya segera meraih map cokelat yang terselip di antara barang-barang. Refleks ia mulai membuka dan mengeluarkan naskah itu dari mapnya.

Tapi alih-alih langsung membaca, matanya justru menerawang keluar jendela.

Cahaya lampu jalan berganti-ganti memantul di kaca mobil, menciptakan siluet di wajahnya yang terlihat serius.

Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Ia masih penasaran dengan sosok misterius penulis naskah sejarah itu -yang katanya ditulis oleh anak Mahasiswa semester dua.

Izack mendengus kecil. "Mahasiswa semester dua, mana ada yang bisa menulis naskah seberat ini." pikirnya skeptis.

Ia mengeluarkan ponsel dan mulai scroll daftar kontak. Ia menyambungkan earphone.

Awan. Pemilik penerbit lokal dari kota Tayoga.

Tapi panggilan itu tak diangkat, meski berkali-kali dihubungi.

Chat dan voice note yang dikirim sejak sore juga belum dibuka.

"Kamu ini pebisnis, tapi telepon nggak kamu angkat, chat juga nggak kamu jawab. Gimana bisnismu bisa berkembang lancar, Bung?!" gerutu Izack lirih.

Ia kembali membuat panggilan. Tapi kali ini, ketu AMN Cabang Tayoga.

Leo.

Sama juga tak diangkat.

"Ah... terlalu larut, kali ya?" pikirnya.

Ia teringat Hendrik -teman akrabnya waktu kuliah S1 di kota Tayoga.

Sekali panggilan, langsung terjawab.

"Halo, Bro!" Sapanya ketika panggilan itu tersambung.

"Hendrik, kira-kira daerahmu siap nggak kalau dijadikan tempat kongres alumni tahun ini?"

Hendrik sempat terdiam beberapa detik sebelum menjawab. "Kalau secara tempat sih bisa diatur, Bro. Lagipula di sana lebih luas gedung dan ruang parkir dibanding tahun kemarin di kota Tayoga"

"Tapi aku belum tahu siapa saja yang siap turun bantu dari cabang."

"Kalau itu sih, teman dari pusat sudah ada daftar nama-namanya dan sudah dikomunikasikan. Ini aku cuman memastikan tempatnya aja."

"Luas kok, lumayan lah... untuk acara sebesar itu."

"Oke, baguslah kalau begitu."

Sejenak Izack terdiam, memandang map di tangan.

"Hmm... Kamu tahu yang namanya Luchika Aria?"

Sejenak suara di ponsel terdiam, seperti sedang mengingat-ingat.

"Hm, kenapa?" jawab Hendrik. "Dia tetangga depan kosku. Panggilannya Chika."

Dahi Izack mengernyit, "Oh?!"

"Cowok atau Cewek?" nada Izack serius.

Spontan suara tawa terdengar bergetar di ujung ponselnya "Cewek lah,"

"Mana ada panggilan Chika, untuk cowok."

Izack terdiam sejenak, tatapannya masih mengarah ke luar jendela.

"Oh..." jawabnya masih bersandar di jok mobil.

Satu tangan memegang map, satu tangan menggenggam ponsel. Lampu di luar terus berkelebat di kaca jendela, memantulkan cahaya redup ke dalam mobil.

Di seberang telepon, Hendrik tertawa kecil. "Kalau di sini, dia lebih dikenal sebagai anak blesteran."

Izack mengernyit. "Maksudnya?"

"Iya, rambutnya agak kemerahan, matanya kecil, kulitnya putih pucat, kurus pula."

Izack mengangkat alis. "Cantik nggak?" tanyanya terdengar ringan dan iseng.

"Kalau nggak cantik, nggak ada yang melirik. Bro!" tawa Hendrik makin lepas.

Glekkk...

Izack tiba-tiba diam, pikirannya berkelebat membayangkan sosok gadis imut dengan kulit pucat, mata kecil yang tajam, rambut pirang yang mungkin sedikit berantakan. Tambahkan sedikit bibir mungil yang basah.

"Ah, sialan!" pikirnya, membantah pikirannya sendiri.

Ia menghirup nafas panjang. Seolah menyadarkan dirinya untuk selalu menjaga kesadarannya. Karena beberapa perempuan yang dekat dengannya, selalu saja nyaris menjatuhkannya. 

Ini bukan takut pada cinta --tapi takut mengulangi luka yang sama. Melakukan hubungan yang tak pantas sebelum saatnya, hingga menanggung luka seperti dirinya yang terlahir sebagai bayi yang tak diinginkan keberadaannya.

"Tapi," suara Hendrik kembali memecah lamunannya. "Dia terlalu cuek, sih."

"Ditambah nggak peka soal perasaan orang, pula."

Persepsi Izack langsung berubah total. Sebelumnya membayangkan gadis lembut yang manis, kini berubah total menjadi gadis dengan ekspresi datar, sikap tak peduli, dan mungkin sedikit jutek.

"Kepiting galak," gumamnya tanpa sadar.

"Hah?" Hendrik terkekeh. "Nggak begitu juga sih, Zack."

"Terus?" tanya Izack lagi. Kali ini dengan nada yang tak seantusias tadi, namun jelas ia belum selesai menimbang sosok itu dalam kepalanya.

***

Izack kembali menyandarkan punggung, menatap langit malam di balik jendela mobil. Ia mengalihkan pikirannya yang sebenarnya masih penasaran dengan sosok gadis itu. Tapi sebagai lelaki yang banyak didambakan perempuan, ia sedikit gengsi. Lalu mengalihkan topik pembicaraan yang menurutnya jauh lebih penting.

"Oh ya, gimana dengan wacana komunitas para akademisi yang dulu kalian diskusikan itu?"

"Civitas Akademika Peduli Negara?"

"Oh... sudah kalian beri nama kah?"

"Hm, sudah."

"Lha ya itu Bro!" sahut Hendrik

"Kita nggak punya akses lebih, kecuali senior kita yang sudah jadi dosen dan peneliti terdekat aja."

"Dan itu, mereka juga bukan orang AMN."

"Ya nggak masalah kan?" jawab Izack.

"Tapi setidaknya kita butuh satu orang yang punya power, Zack."

"Dan sejak kamu pindah ke pusat, cabang Tayoga ini benar-benar kehilangan greget."

"Termasuk Hayes yang dulu paling lantang bersuara," tambah Hendrik.

Izack menarik nafas, menimbang cepat.

"Gimana dengan ketuanya?" tanya Izack lagi.

"Leo sibuk sama proyek penelitiannya."

"Kemarin yang menanggapi proyek CAPN ini cuman anak-anak baru. Percuma, kan? Nggak ada gaungnya."

"Hei... jangan remehkan anak baru, Bro!"

"Makanya kau kesini lah."

Izack tersenyum samar. "Tunggu, aku sempat kepikiran memperkenalkan CAPN ke forum Kongres Alumni nanti."

"Serius?!" Suara Hendrik sedikit meninggi.

"Tapi kalian dari cabang harus solid dulu, seperti apa komunitas ini jelasnya. Dan ini kalian sendiri yang harus maju."

"Narasi kalian juga harus matang. Bukan cuma dengan semangat. Tapi data, arah dan dampaknya apa, harus jelas lah. Nanti aku jembatani, dan dukung kalian, deh."

"Oh ya, sabtu besok kita bahas itu, Bro!" kata Hendrik antusias.

"Kamu kesini lah. Nanti aku suruh Luchika datang deh,"

Kata itu membuat Izack spontan terdiam. Ada perasaan asing yang perlahan menyelusup. Bahagia? Atau... entah.

Tapi sebelum pikirannya terlalu jauh, Hendrik kembali bersuara, lebih pelan.

"Eh, tunggu-tunggu. Aku tanya Heni dulu deh, bisa nggak ajak anak itu ke cabang."

"Dia kan anggota divisi jurnalis. Anak bimbingannya Leo." Jelas Hendrik.

"Leo... ketua cabang?" Izack mengulang dengan nada netral. Tapi matanya menatap kosong ke luar jendela, seolah ada yang mulai berubah dalam pikirannya.

"Hm, iya."

"Oh? Dia anak cabang juga?" tanya Izack penasaran.

"Karena ditarik Leo aja, langsung masuk divisi jurnalistik."

Izack mengernyit. "Ceweknya Leo, jangan-jangan?" godanya.

Hendrik tertawa lepas. "Mimpi apa aku! Chika punya pacar?"

"Hgh?! Kenapa emang?!"

"Dia itu cewek yang nggak butuh lelaki, Bro!" tawa Hendrik lepas. "Teman dekatnya cuma satu, -tetangganya sendiri, cowok pendiam pula."

"Tapi yang pasti, Chika ini jaga diri banget."

Izack mendengus kecil. "Seprotektif itu kah?"

"Bukan cuma protektif," ujar Hendrik, suaranya berubah. "Kalau ada cowok yang sok akrab... Sentuh dikit aja, bisa-bisa ditonjok."

"Serius?!" Izack tertawa kecil.

"Serius."

Izack mengangkat alis, setengah tak percaya. "Ampun... galak banget."

"Makanya apa aku bilang: ngeri."

Izack makin penasaran. "Anaknya yang seperti apa? Aku pernah ketemu kah?!"

Hendrik menyeringai. "Kalau kamu lihat... bisa jatuh hati. Bahaya."

"Hah! Segitu murahnya aku,"

"Ya ya... aku tahu, kamu cowok paling dingin sejagat," ledek Hendrik.

Hening itu kembali menyelinap.

"Aslinya dia itu cantik. Tapi ya itu, bukan tipikal lemah lembut yang bisa tampil anggun ala drama romantis gitu."

"Tapi... tetap aja menarik, sih." Kata Hendrik lagi.

Izack mengangguk pelan, mencoba membayangkan.

Hendrik kembali bersuara. "Pernah, aku lihat dia manjat pagar hutan kampus."

Izack tersedak, "Haaa?!"

Spontan Ozin kaget, tapi ia hanya melirik sekilas spion di atasnya.

Keduanya tertawa lepas, spontan.

"Bukannya pagar itu tinggi banget, ya?!" sambung Izack, masih heran.

"Kan...?" jawab Hendrik.

"Terus, dari mana dia manjat?"

"Entah?!! Pokoknya aku lihat dia sudah di atas pagar gitu, lalu loncat ke trotoar pinggir jalan."

Izack menggeleng setengah geli, setengah tak habis pikir. "Ampun..."

Sisa tawa Hendrik perlahan hilang, terganti nada kagum.

"Lihat anak itu seperti lihat tokoh fiktif. Aneh, keras kepala, tapi nyata. Dan kok bisa... ada anak seperti itu."

"Biasanya kan cewek dengan fisikly seperti itu, anaknya lembut, manis, anggun. Tapi dia? Beughh!" Tawa Hendrik mengundang rasa ingin tahu Izack makin dalam. Tapi ia sadar, harus berhenti berhalu. Namun tetap aja, keinginannya bertemu makin kuat.

Izack pun segera mengakhiri panggilan, ada rasa lebih dari sekadar kata penasaran.

"Oke, gitu dulu ya" kata Izack akhirnya.

"Berarti kamu jadi kesini kan?"

"Emm... oke."

"Tapi kamu beneran bisa jamin anak itu datang, ya."

"Siapp... Pak ketua." Hendrik tertawa meledak.

"Ngomong-ngomong, ada apa nih?"

"Tumben banget kamu tanya soal cewek."

Izack sedikit gelagepan, pelan ia menetralkan suaranya.

"Ah... naskahnya dia yang dikirim ke penerbitnya Awan, masuk ke tempatku."

"Kok bisa??"

"Tulisannya berat, Bro."

"Kenapa?"

"Mirip tulisan pelaku sejarah."

Izack membolak-balikkan map di pangkuannya. Batinnya terus bergumam, "Nggak yakin aja, ada anak semester dua kok bisa menulis buku seberat ini."

"Oh..."

"Katanya sih, ayahnya tahanan politik. Kakek dan buyutnya itu orang-orang penting masa perang dulu."

"Oh ya? Terus-terus?"

"Makin masuk akal, sih." Gumamnya pelan.

"Ya sebatas itu aja, yang kita tahu."

"Punya kontaknya dia?" tanya Izack lagi.

"Nggak ada. Dia nggak pernah mau kasih nomor. Punya HP sih, tapi jadul banget, dan anaknya pendiam. Nggak ada yang berani tanya."

"Apalagi dia sibuk kerja serabutan: dari ngelesi anak sekolah, jaga SPBU, kerja di warung makan, sampai cuci dan nyetrika baju anak kos."

"Hah?! Katanya penulis?"

"Terus kuliahnya gimana?"

"Ya kuliah,"

"Oh..." jawab Izack akhirnya kembali pamit memutuskan panggilan.

Sampai di detik itu Izack terdiam. Ia segera pamit, lalu menarik nafas panjang.

Map cokelat besar di pangkuannya terasa makin berat.

Ia masih menggenggam ponsel, tapi pikirannya melayang. Menatap jalanan di tengah kemacetan, pikirannya tersedot pada potongan cerita tentang Luchika Aria --mahasiswi kehutanan, yang belum pernah ia lihat, tapi kini sosoknya begitu nyata di pikirannya.

Ia teringat pada masa remajanya. Bagaimana dirinya pernah kehilangan arah, tapi bukan demi sepiring nasi seperti gadis itu.

Semua seolah membuka luka lama yang belum sepenuhnya sembuh.

Ia menunduk. Menatap map cokelat di pangkuannya --seolah benda itu menjadi saksi bisu perjuangannya.

Keringat, luka, dan rahasia yang tersembunyi di dalamnya.

"Ozin," suaranya pelan, tapi tegas.

"Ya, Bang?"

"Lusa aku ada acara nggak?"

"Nggak, Bang. Aman. Gimana?"

"Tolong carikan tiket kereta ke Tayoga. Sekarang."

Ozin mengerutkan kening. "Untuk jam berapa?"

"Lebih cepat, lebih baik."

"Oke" jawab Ozin mengangguk. Ia melirik sekilas dari spion.

Lelaki dengan wajah sedikit berminyak itu tampak lebih tenang, namun tatapannya terlihat dalam pada map di tangannya.

Seumur hidup, baru pertama kali ia terpikat oleh bayangan seorang gadis yang bahkan belum ia kenal sama sekali. Tapi kali ini berbeda.

Ia ingin bertemu.

Bukan karena penasaran semata.

Tapi karena hatinya tahu:

Gadis itu bukan sosok biasa.

Mobil perlahan menepi ke jalur kanan. Begitutanda putar arah terlihat, Ozin memutar setir menuju stasiun kereta --menuju awal,dari sesuatu yang belum ia ketahui pasti.